Penting Menjadikan UNJ sebagai Ikon Kampus Pendidikan  

 

 

 

 

Selain harus memperluas jaringan alumni di sektor profesi, UNJ perlu membranding ulang keunggulannya sebagai kampus pendidikan.

Abdullah Taruna

Ketua Umum Ikatan Alumni (IKA) UNJ Juri Ardiantoro, P.hD, menyatakan, hingga hari ini UNJ memang terbilang lemah untuk jaringan alumni yang bekerja di sektor profesi non keguruan. Kondisi ini masih ditambah dengan peringkat kualitas pendidikan di antara Perguruan Tinggi berlatar belakang konversi IKIP menjadi Universitas.

Meski lemah di sektor profesi non keguruan dan menghadapai persoalan di peringkat kampus, namun keunggulan di sektor profesi guru sulit dibantah. “Untuk profesi guru, lulusan UNJ jelas mendominasi baik secara kuantitas, maupun kualitas. Para guru lulusan UNJ mengajar di sekolah-sekolah unggulan dan favorit di Jabodetabek,” kata Juri Ardiantoro di hadapan para alumni Pengurus Ikatan Alumni Prodi  Pendidikan Sejarah (IKASA) UNJ di Kedai Kopijadi, Jalan KH. Abdullah Syafei No. 32, Tebet, Jakarta Selatan.

Menyikapi kondisi tersebut, selaku pimpinan rapat dalam pertemuan istimewa IKASA UNJ, Juri Ardiantoro mengajak para alumni Prodi Pendidikan Sejarah untuk tiada bosan memikirkan kemajuan pendidikan almamater UNJ. “Alumni memang tidak boleh mengintervensi para mahasiswa, tapi untuk mengawasi kualitas pendidikannya, itu merupakan panggilan,” kata Juri Ardiantoro.

Terkait dengan dominasi secara kualitas, dan kuantitas guru-guru UNJ di sekolah-sekolah favorit di Jabodetabek, menurut Juri Ardiantoro, hal itu menunjukkan posisi keunggulan UNJ.

Alumni Prodi Sejarah UNJ Angkatan 1992 yang meraih gelar Doktor Filsafat dari Universitas Kebangsaan Malaysia ini menambahkan, tanpa menafikan perkembangan ilmu murni pasca konversi IKIP Jakarta menjadi universitas, kata Juri, UNJ perlu membranding ulang sebagai kampus pendidikan. “Dalam sejarah perkembangan UNJ memiliki pakar-pakar pedagogik yang mumpuni, dan menyumbangkan karya untuk pengembangan institusi LPTK di Indonesia, “ ungkap Juri Ardiantoro yang juga meraih gelar Master Sosiologi dari Universitas Indonesia.

Di antara karya-karya tersebut disebutkan oleh Juri Ardiantoro, berdirinya Labshool IKIP Jakarta/UNJ dan Universitas Terbuka yang merupakan gagasan Prof.Dr. Setijadi, perumusan Kurikulum 1975 oleh Prof.Dr. Sudijarto, CBSA oleh Prof.Dr. Conny Semiawan. “Itu baru dari 3 orang tokoh pedagogik IKIP Jakarta. UNJ masih memiliki pakar pedagogik lainnya, seperti Alm. Winarno Surakhmat, Prof.Dr. HAAR Tilaar, juga Alm. Prof.Dr. Siswojo yang merupakan pakar komputasi linguistik (bahasa komputer),” jelas Juri Ardiantoro.

Dalam pertemuan tersebut, IKASA UNJ sepakat membuat  mini laboratorium Proses Belajar Mengajar Program Studi Pendidikan Sejarah. IKASA UNJ menamakan laboratorium tersebut Kelas Inspirasi PBM Prodi Pendidikan Sejarah.

“Kita akan mengadakan pertemuan kembali untuk mematangkan gagasan, dan launching Kelas Inspirasi PBM Prodi Pendidikan Sejarah,” kata Juri Ardiantoro, memberikan rekomendasi selaku pimpinan rapat.

Keputusan rapat para anggota IKASA UNJ yang dipimpin Juri Ardiantoro, P.hD, direspon dengan tepukan tangan meriah para peserta rapat sebagai tanda menyetujui hasil pertemuan di Kopijadi, Jalan KH. Abdullah Syafei No. 32, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu, 16 Februari 2018.

 

 

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.