Jimmy Philip Paat: “Kemajuan Universitas, Tidak Melulu Harus dari Rektor”

 

 

 

 

Untuk melahirkan kualitas Sumber Daya Manusia yang berkualitas internasional, perguruan tinggi di Indonesia tidak cukup dengan berjalan cepat  dan jauh. Rektor dan anggota universitas perlu melakukan lompatan yang jauh  ke depan.

 

Abdullah Taruna,

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Tim Ahli Forum Diskusi Pedagogik (FDP) Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta, Jimmy Philip Paat dalam wawancara melalui WhatsApp.

“Apakah untuk menghasilkan kualitas SDM berdaya saing global universitas-universitas di Indonesia dituntut untuk mampu berjalan cepat dan jauh Pak Jimmy? Tanya Abdullah Taruna dari ika.unj.ac.id.

“Rasa saya bukan jalan cepat tetapi melompat jauh ke depan,” tulis Jimmy Philip Paat.

Jimmy memandang perguruan tinggi memang harus melakukan lompatan yang jauh untuk menghasilkan SDM yang berkualitas internasional. Namun untuk mencapai posisi minimal seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), dan Institut  Teknologi Bandung (ITB) yang kini mencapai peringkat papan atas di Indonesia, dan ketiganya masuk kategori berdaya saing global, kata Jimmy,  tidak selalu dengan mengganti para rektor di antara 4697 universitas itu dengan rektor dari luar negeri. Jimmy Philip Paat menawarkan solusi yang bersifat pedagogik.

Menurut Jimmy, kapasitas dosen, dan kemampuannya membangun relasi dengan para mahasiswi serta mahasiswanya untuk menumbuh-kembangkan orientasi kepada ilmu pengetahuan, merupakan salah satu cara meningkatkan kualitas SDM  berdaya saing dunia. Termasuk bagaimana agar para anggota perguruan tinggi mampu menciptakan lingkungan dan suasana akademis yang mendukung.

“Saya pikir, kemajuan universitas, tidak melulu harus dari rektor. Saya masih ingat ketika Pak Winarno bilang ketika menjadi Rektor, (ini yang saya tafsirkan) yang harus “diangkat” para dosennya,” kata Jimmy Philip Paat mengutip Rektor IKIP Jakarta 1975-1980, Prof. Dr. H. Winarno Surakhmat, M.Sc., Ed.

Singapura, lanjut Jimmy, universitasnya memang dijalankan orang asing. Tapi menurutnya kunci suksesnya bukan pada sosok rektor luar negerinya. “Menurut saya anggota universitasnya memang sudah bagus,” terang Jimmy menegaskan kata “bagus” dalam pesan tertulisnya.

Berkaitan dengan tiga kampus papan  atas yang masuk daya saing global, menurut Jimmy, keberhasilan ketiga kampus itu bukan hanya tampak oleh mata, tapi bisa dirasakan. “Paling tidak oleh saya bahwa tiga perguruan tinggi itu yang dianggap baik. Saya tidak kenal semua tiga Perguruan Tinggi itu. Mungkin 7 tahun belakangan ini saya “masuk” ke salah satu jurusan di UI (Sosiologi Universitas Indonesia), khususnya bergaul akademis dengan beberapa dosen Sosiologi Pendidikan,” ungkap Jimmy Philip Paat.

Berangkat dari pergaulan akademis itu, lanjut Jimmy, dirinya bisa merasakan Universitas Indonesia (lebih tepatnya Sosiologi UI) dijalankan dengan baik. “Apa yang saya maksud dengan “dijalankan dengan baik”? Pertama dan ini sangat menarik, hubungan dosen dengan mahasiswa bagi saya sangat baik. Khususnya yang ingin bergelut dengan (Sosiologi) Pendidikan, mahasiswi-a diantar dengan baik oleh para dosen Sosiologi Pendidikan,” terang Jimmy tentang pentingnya dosen perguruan tinggi membangun relasi dengan para mahasiswi-mahasiswanya.

Menurut Jimmy, relasi pedagogik tersebut belum menjadi budaya khususnya di kampus yang masuk kategori Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).  Bila para dosennya tidak membangun relasi dengan para mahasiswi  dan mahasiswanya untuk mencintai bidang studi yang digelutinya, menurut Jimmy, mustahil para lulusannya berkualitas.

“Kita mungkin perlu bertanya, apakah para calon guru itu diantar untuk menjadi sarjana, dan bergaul dengan ilmu pengetahuan? Ungkap Jimmy dalam pesan WhatsAPP.

Salah satu penyebab kenapa banyak dosen di perguruan tinggi tidak membangun relasi dengan para mahasiswi-mahasiswanya, kata Jimmy, karena perekrutan staf pengajar di kampus yang bermasalah. “Masa sih kriterianya hanya S2 atau S3 dan IP yang baik? Kata  Jimmy bertanya-tanya.

Sejak peraturan mengharuskan dosen itu minimal bergelar S2, kata Jimmy, mereka yang jadi dosen kriterianya lebih karena memiliki ijazah S2.  “Buat saya ini keliru besar,” kata Jimmy.

Agar para dosen memiliki tradisi untuk membangun relasi ilmu pengetahuan dengan para mahasiswi-mahasiswanya, tambah Jimmy, maka hal itu harus dimulai sejak dari perekrutan dosen oleh perguruan tinggi.

“Perekrutan dosen harus dilihat jejaknya sejak mahasiswi-a untuk melihat passion-nya pada ilmu pengetahuan. Termasuk ikut diskusi, membangun kelompok diskusi, membantu penelitian dan pengajaran. Tapi setahu saya ini diabaikan, “ tulis Jimmy mengungkapkan langkah-langkah yang perlu dilakukan perguruan tinggi di Indonesia untuk melakukan lompatan jauh dalam upaya menghasilkan lulusan berdaya saing internasional.

Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil menjadi perguruan tinggi papan atas di Indonesia. Ketiga universitas itu berhasil masuk jajaran perguruan tinggi berdaya saing internasional. Sisanya, sekitar 4697 kampus gagal mencapai kualitas dunia. Termasuk 10 perguruan tinggi eks IKIP Negeri yang kini sudah menjadi universitas.

Untuk mengatasi hal itu, pada tahun 2020 Presiden R.I. Ir. H. Joko Widodo akan mendatangkan rektor dari perguruan tinggi dari luar negeri. 4697 perguruan tinggi tersebut akan dipetakan oleh Kemenristekdikti. Kampus-kampus yang masuk dalam pemetaan rencananya bakal diganti rektornya dengan rektor dari luar negeri.  (Bersambung).

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.