IKASA Sepakat Membuat Mini Laboratorium PBM Prodi Pendidikan Sejarah

 

Penyampaian fakta sejarah tak cukup membantu peserta didik menangkap gejala-gejala masa depan. Dibutuhkan bantuan aneka konsep ilmu sosial dan humaniora agar guru verstehen dan mencapai tujuan pembelajaran sejarah.

 

Abdullah Taruna

Ikatan Alumni Jurusan Sejarah (IKASA) UNJ sepakat membuat  mini laboratorium Proses Belajar Mengajar Program Studi Pendidikan Sejarah. IKASA UNJ menamakan laboratorium tersebut Kelas Inspirasi PBM Prodi Pendidikan Sejarah.

“Kita akan mengadakan pertemuan kembali untuk mematangkan gagasan, dan launching Kelas Inspirasi PBM Prodi Pendidikan Sejarah,” kata Ketua Alumni Universitas Negeri Jakarta, Juri Ardiantoro, P.hD, yang merupakan alumni mahasiswa Pendidikan Sejarah UNJ Angkatan 1992.

Keputusan rapat para anggota IKASA UNJ yang dipimpin Juri Ardiantoro, M.Sos, P.hD, direspon dengan tepukan tangan meriah para peserta rapat sebagai tanda menyetujui hasil pertemuan di Kopijadi, Jalan KH. Abdullah Syafei No. 32, Tebet, Jakarta Selatan.

Rapat IKASA UNJ dihadiri alumni IKASA, baik unsur yang mewakili dosen Prodi tersebut, maupun unsur lulusan yang menjadi guru, pejabat, hingga kalangan profesional. Di antara mereka tidak sedikit yang menyandang nama beken. Sebut saja, Dra. Budiarti Chudlori, M.Pd, Drs. Setiadi Sulaeman, M.Pd, DR. Rahmat Edi Irawan_seorang presenter dan kini menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Net TV, Edy Budiyarso, S.Pd, M.Hum_seorang wartawan senior, penulis buku sejarah dan politik, yang kini menjabat Presiden Direktur sebuah perusahaan PR di Jakarta, Ahmad Faridi (guru/pendidik), Sigit Kurniawan (jurnalis radio elshinta), Sri Lestari Werdiningsih (Pasar Modal), DR. Dirgantara Wicaksono (dosen Pascasarjana UNJ), Satrio Prio Utomo, S.Pd, M.Hum, Rahmat Akbar dan Wage Wardana.

Gagasan untuk membuat Mini Laboratorium “Kelas Inspirasi PBM Prodi Sejarah UNJ bermula dari refleksi PBM Sejarah oleh Drs. Setiadi Sulaeman, M.Pd.

Menurut Setiyadi Sulaeman, Pembelajaran Sejarah sejauh ini masih belum mengena, karena lebih mengandalkan kognisi, dan angka-angka periodisasi. “Idealnya seorang guru sejarah mengajarkan kajian sejarah masa lalu untuk menangkap gejala-gejala masa depan,” kata Setiyadi dengan ekspresi sangat serius dan nada suara melengking.

Setiyadi mengajukan dalih bahwa sejarah itu bukan masa lalu. “Pemikir Pembaharuan Islam Iran Ali Syari’ati bilang, bahwa sejarah adalah masa depan. Tapi kenapa masih banyak yang mengajarkan sejarah sebagai masa lalu? Ungkap dosen senior pendidikan sejarah di Prodi Sejarah UNJ yang kini sudah pensiun ini.

Akibat buruk dari model pembelajaran sejarah di ruang kelas seperti itu, bukan hanya membuat para siswa bosan, melainkan juga guru juga tidak bisa mengembangkan imajinasinya dalam mengajar, apalagi imajinasi murid-muridnya.

Setelah guru memahami hakikat sejarah adalah masa depan perkembangan masyarakat, lanjut Setiyadi, maka guru perlu memahami konsep-konsep pendukung yang dipinjam dari berbagai ilmu. “Kita tidak perlu menguasai semua ilmu, tapi cukup memahami apa itu konsep politik, konsep ekonomi, sosiologi, antropologi, geografi, Psikologi, untuk membantu guru dalam mengajarkan materi pembelajaran sejarah,” papar alumni dan dosen Prodi Sejarah UNJ yang dikenal piawai dalam mengenalkan konsep-konsep ilmu pengetahuan ini.

Kalau kita tidak menguasai konsep-konsep interdisipliner itu, tambah Setiyadi, ya sulit untuk mengembangkan pembelajaran sejarah di ruang kelas, apalagi untuk membuat para murid memahami mata pelajaran yang kita sampaikan,” terang Setiyadi.

Selain Setiyadi Sulaeman, rekan sejawat Dra. Budiyarti, M.Pd, juga memberikan analisis perkembangan terkini PBM Prodi Sejarah, dan pergulatan pemikiran di Prodi tersebut. Dosen yang dikenal hampir oleh seluruh angkatan Prodi Sejarah, juga di Prodi Pariwisata UNJ itu mengingatkan agar para alumni tidak berpangku tangan melihat stagnasi yang terjadi di Prodi Sejarah.

Berikutnya yang bicara adalah Doktor Rahmat Edi Irawan, yang membahas pentingnya pembelajaran sejarah melalui metode audio visual. Kemudian, Edy Budiyarso, jurnalis yang matang di jagad jurnalisme televisi sebagaimana Rahmat Edi Irawan juga urun rembuk tentang pentingnya penggunaan teknologi audio visual untuk memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran sejarah.

Selain nama-nama tersebut di atas, rapat IKASA Prodi Sejarah UNJ juga dihadiri beberapa orang peninjau dari Fakultas Sastra UNJ (FPBS: dahulu). Di antfaranya Cak Joko, alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Anton Cekov_alumni Bahasa dan Sastra Perancis, dan alumni Bahasa dan Sastra Arab, Yana Priyatna.

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.