IKA UNJ Telaah Pemikiran Pendidikan H.A.R Tilaar

Sekitar pukul tiga sore, Indra Gunawan hadir di sekretariat IKA UNJ Gedung Pascasarjaan (8/5). Guru SMA 1 Leuwiliang Bogor ini, diundang IKA UNJ untuk menyampaikan hasil penelitiannya dalam diskusi pendidikan bertajuk “Telaah Pemikiran Pendidikan Prof. Dr HAAR Tilaar”.

HAAR Tilaar ialah tokoh pendidikan Indonesia yang kerap menawarkan konsep pendidikan untuk kemajuan bangsa. Semasa hidupnya, ia pernah menjabat sebagai staf Bappenas. Sejak 1997, ia pun sudah menjadi Guru Besar UNJ. Pada Dies Natalies UNJ 2018, ia dianugrahkan Lifetime Achievement Awards atas dedikasinya dalam dunia pendidikan.

Tilaar dikenal sebagai tokoh pendidikan yang mampu menawarkan konsep pendidikan alternatif untuk bangsa Indonesia. Satu dari sekian banyak konsep itu bernama pedagogik transformatif yang dicetuskan sejak 2002.

Menurut Indra, pedagogik transformatif berupaya menimbulkan kesadaran individu sebagai insan yang berpikir. Individu memiliki kehendak bebas dalam menghadapi masalah yang ada. Selain itu, individu perlu ikut serta di dalam perubahan sosial. Tujuannya untuk menyadarkan danm engembangkan potensi individu dalam bermasyarakat. “Individu harus sadar,” kata alumni mahasiswa Pendidikan Sejarah 2010 ini.

Perkembangan Pemikiran HAAR Tilaar
Bagi Indra Gunawan, pemikiran pendidikan Tilaar tidak terlepas dari situasi dan kondisi zaman. Di 1970-an, Orde Baru menerapkan sistem pendidikan yang represif. Sistem pendidikan seperti itu, diprotes oleh kalangan pemuda. “Pemuda mulai melakukan kritik terhadap sistem pendidikan Orde Baru,” kata Indra

Situasi itu mendorong Tilaar, melahirkan pemikiran pendidikan alternatif yang disebut Pedagogik Ekosferis. Menurut Indra, konsep ini memperhitungkan pengaruh lingkungan sekitar dalam perkembangan peserta didik. Tujuannya agar peserta didik tidak asing dengan lingkungan sekitarnya. Jadi, pendidikan tak hanya didapatkan di lingkungan sekolah saja.

Kemudian, pada 1980an, Tilaar menyoroti ilmu pendidikan Indonesia sekedar teknikalitas kelas dan masalah metodologi saja. Padahal, proses pendidikan itu mempunyai pengertian sempit. Seharusnya pendidikan berbicara mengenai masyarakat dan bangsa.

Mengetahui hal itu, ia kembali melahirkan konsep pendidikan alfernatif, yakni pedagogik futurisme. Sebetulnya, pedagogik futurisme masih senapas dengan pemikiran pedagogik ekosferis. Pendidikan harus memperhatikan hubungan sosial, ekonomi, dan politik masyarakat. Namun, futurisme menekankan pentingnya pendidikan untuk masa depan peserta didik.

Selanjutnya, di 1990-an, Tilaar mulai menyadari kaitan kuat antara pendidikan dan politik. Baginya, pendidikan tidak bisa dilepaskan dari konstelasi politik dan dominasi suatu golongan.

Perlu ada pendekatan baru agar pendidikan mampu menimbulkan kesadaran individu atas posisinya di masyarakat. Oleh karena itu, Tilaar menganjurkan pendekatan ilmu-ilmu sosial dalam merumuskan konsep pendidikan. “Pendidikan harus bisa menimbulkan kesadaran politik,” kata Igun.

Latar Belakang Pemikiran Pendidikan Tilaar
Pemikiran pendidikan Tilaar dipengaruhi oleh beberapa tokoh. Menurut Indra, kurun waktu 1970-an hingga 1990-an, pemikiran Tilaar masih kental dengan pemikiran Barat. Tilaar merujuk tokoh luar negeri seperti Paulo Freire dan Ivan Illich. Sedangkan, di sekitar reformasi, tokoh pendidikan Indonesia dipilih Tilaar dalam mempertajam analisis pendidikannya. Dua diantaranya adalah Ki Hadjar Dewantara dan Muhammad Syafei.

Pendapat senada dilontarkan Jimmy Paat, aktivis pendidikan sekaligus dosen Bahasa Perancis UNJ. Menurut Jimmy, pemikiran pendidikan Tilaar berubah. Hal itu dapat dilihat dengan membedakan karya Tilaar sebelum dan sesudah Reformasi. Pada 1970-an, Tilaar menulis diktat mahasiswa – sekarang dibukukan – berjudul Ekonomi Pendidikan. Kemudian, pada 1980-an mengenai manajemen pendidikan. “Karya saat Tilaar menjadi orang Bappenas,” kata Jimmy.

Sedangkan, pada reformasi, Tilaar menerbitkan buku berjudul Pendidkan Transformatif dan Pendidikan Kritis. Bagi Jimmy, pemikiran Tilaar era Reformasi erat kaitanya dengan pedagogik kritis kaum postmodern, seperti Michael Apple. “Pemikiran Tilaar Berubah Total,” kata Jimmy.

Menanggapi latar belakang pemikiran Tilaar, Yatna Supriatna, dosen Universitas Bung Karno, berkata, konsep pendidikan Transformatif merupakan hasil pemikiran Tilaar atas analisisnya merujuk Ki Hadjar Dewantara. Sebetulnya, selain Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia adalah Tan Malaka. Namun, lanjut Yana, Tilaar lebih memilih Ki Hadjar Dewantara dibanding Tan Malaka. Menurut Yana, mungkin, karena pemikiran Tan Malaka terlalu vulgar. Selain itu, Tan Malaka tidak banyak berkutat dalam dunia pendidikan.

Yana menganggap, Tilaar memilih meneliti pemikiran Ki Hadjar Dewantara dibanding Tan Malaka karena faktor budaya. Apalagi, bagi Ki Hadjar Dewantara pendidikan adalah proses kebudayaan. Dalam konteks nasional, pendekatan budaya cocok untuk mengembangkan kebudayaan nasional. “Pendekatannya secara kultural dan lebih halus,” kata Yana.

Penulis: Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.