IKA UNJ Bincang Santai dengan Para Dekan Fakultas UNJ

Juri Ardianto, Ketua IKA UNJ, dipercaya menjadi moderator diskusi tentang masa depan UNJ di Aula Gedung Bung Hatta UNJ (24/5). Ia mengarahkan obrolan delapan dekan fakultas di UNJ. Sayangnya, hanya dua dekan yang menghadiri kegiatan ini, yaitu Sofia Hartati (Dekan FIP) dan Dedi Purwono (Dekan FE). Diskusi ini berlangsung dari pukul 17.00 WIB hingga menjelang Adzan Maghrib.

Setelah kasus Djaali, Plt Rektor Intan Ahmad dipercaya kemenristekdikti untuk membenahi masalah yang ada di UNJ. Niat baik ini dipahami Juri sebagai langkah membangun UNJ. Juri mengatakan, civitas akademika UNJ jangan berlarut-larut dengan masa lalu. Sebab, kini UNJ ingin menjadi universitas yang diakui di Asia. Hal ini tertuang dalam statuta UNJ yang baru.

Untuk mencapai tujuan itu, Juri mengatakan perlu ada pembenahan dari tingkat universitas, fakultas hingga prodi. Oleh karena itu, IKA UNJ mengundang delapan dekan fakultas untuk bertukar pikiran. Harapannya, perbincangan ini bisa menguak masalah-masalah yang sedang UNJ alami. Ambisi untuk menjadi reputasi Asia itu yang akan kita kejar, kata Juri.

Prestasi UNJ dan masalah yang ada

Menanggapi Juri, Sofia Hartati berkata mimpi UNJ – menjadi universitas bereputasi Asia – dapat dicapai dengan melihat modal yang dimiliki. Hingga saat ini, peringkat UNJ merangkak naik ke posisi 19 dalam dua tahun. Dosen dan mahasiswa berperan meningkakan peringkat UNJ. Dosen UNJ menyumbangkan 500 karya ilmiah yang terindikasi Scopus. Sedangkan, mahasiswa menyumbangkan berbagai prestasi sehingga menduduki peringkat 11.

Namun, UNJ memiliki setumpuk masalah.

Pertama, dari sisi akademik proses pembelajaran belum maksimal. Hal ini dapat dari lulusan UNJ yang tidak memiliki kemampan sesuai kebutuhan dunia kerja.

Kedua, rendahnya karya penelitian inovatif dan kurangnya publikasi karya ilmiah civitas akademika UNJ.

Ketiga, sebagian besar prestasi mahasiswa hanya bertumpu bidang olahraga. Prestasi mahasiswa seperti ikut Program kreatif Mahasiswa masih mininum.

Atas dasar ketiga masalah ini, Hartati menyampaikan solusi. Bagi Sofia dari aspek penelitian, upaya meningkatkan karya ilmiah inovatif dapat dilakukan bila dosen maupun mahasiswa melakukan kontribusi.

“Seperti dosen harus mampu membuat riset excellent. Dengan cara menggenjot sumber daya dosen yang kompetitif sehingga menghasilkan produk yang kompetitif juga, kata Sofia.

Namun, dosen tidak bisa melaukan ini bila ia tidak open minded. Dosen perlu pergi mengikuti seminar atau studi banding ke kampus dalam negeri maupun luar negeri.

Solusi mencari sumber dana

Bagi Sofia, perlu ada dukungan finansial untuk mengupayakan hal ini. Seperti peningkatkan dalam kualitas akademik. Dosen maupun mahasiswa perlu diberikan fasilitas laboratorium untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Paling tidak tiap studi harus memiliki laboratorium yang memadai. Namun tantangannya adalah dana, kata Sofia.

Sofia mengakui, selama ini UNJ hanya mengandalkan UKT mahasiswa sebagai sumber dana utama.

“Nah, untuk mencari dana jangan sampai tertumpu ke UKT mahasiswa. Saya berpikir mengoptimalkan sumber daya mahasiwa agar bisa menghasilkan keuntungan untuk UNJ. Salah satunya dengan membuat proposal ke mitra usaha, kata Sofia.

Agar tidak mengandalkan dana mahasiswa, Sofia menyarankan untuk memanfaatkan aset yang dimiliki UNJ. Sebab, ia melihat aset UNJ belum dikelola secara efektif.

Selain itu, UNJ juga perlu bekerja sama dengan alumni UNJ, supaya bisa mengandeng pemerintah dan pihak industri. Kerja sama dengan Alumni, diharapkan memberikan kepercayaan kepada pemerintah dan pihak industri untuk memberikan dana ke UNJ.

Menanggapi kesulitan sumber dana, Dedi Purwono, menyarankan untuk meningkatkan daya inovasi sumber daya UNJ. Salah satunya dengan kembali menggagas entrepreneur university. Harapannya target UNJ bereputasi Asia bisa dicapai.

Ada beberapa hal supaya entrepreneur university bisa dilakukan.

Pertama, UNJ perlu mempeluas pemasukan dana. Salah satunya dengan menjual riset civitas akademika yang bisa dimanfaatkan oleh industri.

Masalah pembiayaan belum berkembang, masih terpaku dengan UKT, minta SPU mahasiswa demo. Yang saya sarankan, perlu menjalin kerja sama dengan industri, program riset bisa dijual dan dimanfaatkan industri, kata Dedi

Kedua, UNJ bisa memanfaatkan Labshool. UNJ bisa menjual nama Labschool ke investor, namun sistem perekrutan guru, pembelajaran, dan fasilitas ditentukan pihak Labschool. “Pendapatan 80 miliar dari Labschol, UNJ cuma 252 milyar. Kalau Labschool diperbanyak, itu bisa menambah pundi-pundi keuangan, kata Dedi.

Ketiga, UNJ perlu memperluas kerja sama dengan kampus lain dan pihak industri. Hal ini bisa dilakukan dengan meminta bantuan alumni UNJ.

Keempat, mahasiswa perlu ditanamkan jiwa kewirausahaan. Tetapi, bukan berarti UNJ mengarahkan semua mahasiswa menjadi entrepreuner. Hanya mahasiswa yang serius saja yang diberikan fasilitas.

Keempat hal itu dapat dilaksanakan bila UNJ memiliki kepemimpinan yang kuat. Pemimpin itu harus ahli di bidang akademik maupun manajerial. Perlu sosok merangkul semua, jago di bidang akademik seperti produktifitas jurnal, dan memumpuni menjadi manajer yang handal, kata Dedi.

Diskusi ini merupakan satu rangkaian dari kegiatan Buka Puasa Bersama dan Santunan anak Yatim Piatu yang diadakan IKA UNJ.

Penulis : Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.