IKA B INDO Menumbuhkan Daya Kreatif Mahasiswa

Memperingati Dies Natalis UNJ, Ikatan Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (IKA B INDO) dan Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) menggelar diskusi bersama Alumni tentang “Peran Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Industri Kreatif” di Aula Maftuchah Yusuf, Gedung Dewi Sartika (18/6). Syarifudin Yunus (Ketua IKA B INDO) dan Iip Saripul Hanan (Sutradara Dunia Terbalik) diundang menjadi pemateri diskusi dari pukul 09.00 WIB hingga 12.00 WIB.

Yunus mengatakan industri kreatif terkait dengan aktivitas ekonomi untuk mencipta dari pengetahuan yang ada. Ada berbagai bentuk Industri Kreatif seperti periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fashion, penerbitan, dan percetakan. Berbagai industri itu membutuhkan ahli bahasa untuk memasarkan serta memudahkan konsumen memahami jenis produk. “Bahasa itu penting,” kata pendiri Taman Bacaan Masyarakat Lentera Pustaka ini.

Prodi BPSI mampu menimbulkan daya kreatif mahasiswa. Namun, Yunus mengingatkan, daya kreatif bukan milik mahasiswa prodi PBSI saja. Tiap orang bisa mendapatkan daya kreatif dan membuat industri kreatif.

Oleh karena itu, Yunus menyarankan mahasiswa untuk mengetahui potensi dalam dirinya. Setelah itu, mahasiswa harus memiliki tiga hal penting untuk mengembangkan hal itu, yaitu cinta, fokus, dan energi.

Mahasiswa harus mencintai lingkungan akademik PBSI. Supaya, mahasiswa bisa memaksimalkan pengetahuan yang didapatnya. Setelah itu, mahasiswa juga harus fokus mengejar tujuan. Terakhir, mahasiswa harus mengeluarkan energi yang cukup besar.

Energi ini dibutuhkan untuk mengembangkan daya kreatif. Kreatif itu bisa diperoleh dari pengalaman, pengetahan, dan perasaan. “Pengalaman adalah guru terbaik,” kata Yunus.

Kunci untuk mendapatkan itu ialah keberanian. Jangan terlarut dengan rasa takut untuk melakukan sesuatu. Selain itu, mahasiswa jangan merasa pintar, hebat, dan cepat merasa puas. “Harus mengendalikan kendala mental, seperti merasa pintar dan hebat, ” kata Yunus.

Hanan sepakat dengan Yunus. Hanan menambahkan mahasiswa jangan menunda-nunda sesuatu. Bila merencanakan sesuatu sebisa mungkin langsung dilakukan. “Jangan malas, kalau sudah membuat rencana jangan ditunda-tunda. Kita engga sadar, tahu-tahu sudah lewat setahun, dua tahun. Waktu itu jahat,” kata Hanan.

Hanan juga mengingatkan mahasiswa jangan merasa takut untuk melakukan sesuatu. Mahasiswa harus pede.” Tiap orang ada tempatnya. Paling penting itu pede. Jangan pernah berhenti berbuat sesuatu dan jangan pernah puas,” kata Hanan.

Penulis: Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.