Mengembangkan Pedagogik di UNJ (Bagian 2)

Kebijakan keharusan lulusan program pendidikan UNJ mengikuti PPG tidak adil.

                                 

Hendrik

Setelah membahas menurunnya perkembangan pedagogik di UNJ. Sekitar pukul 15.00 WIB, dalam diskusi Publik Forum Pedagogik IKA UNJ muncul masalah lain, yaitu masalah lulusan mahasiswa dan administrasi di UNJ.

Masalah ini muncul untuk merespon pernyataan Prof.Dr. Bedjo Sujanto, bahwa terjadi perubahan orientasi kebijakan pemerintah, dari semula tugas mendidik guru itu kewenangannya diberikan kepada LPTK, kemudian diberikan juga kepada lembaga pendidikan non IKIP. Ini tak bisa dipungkiri telah menjadi salah satu penyebab kenapa pedagogik kian kurang mendapat perhatian.

Satriawan, anggota Federasi Serikat Guru Indonesia, menananggapi pernyataan Bedjo. Menurutnya, sejak diberlakukanya Undang-Undang mengenai Guru dan Dosen tahun 2005, profesi guru menjadi terbuka. Artinya, untuk menjadi Guru yang berkompeten harus melalui sertifikasi guru. Sertifikasi Guru didapatkan dengan ikut Pendidikan Profesi Guru (PPG) Semua mahasiswa dari tiap kampus bisa mengikuti PPG. Bagi guru Labschool ini, peraturan itu tidak adil bagi mahasiswa UNJ. Sebab, menutup peluang mahasiswa eks-IKIP untuk bisa menjadi guru profesional.

Satriawan mengkritik adanya PPG. Menurutnya, mahasiswa PPG mempelajari mata kuliah yang sama dengan mahasiswa UNJ, yaitu Mata Kiliah Dasar Kependidikan atau  MKDK. “Itu tidak adil, hanya pengulangan” kata Satriawan.

Menurutnya, kehadiran PPG merupakan solusi pemerintah yang tidak masuk akal. Sebab, hanya memperketat masalah administrasi saja. Bahkan, ia menganggap pemerintah meremehkan masalah guru. Padahal, ada tiga masalah yang harus diselesaikan, yaitu kompetensi, perlindungan, dan kesejahteraan.

Menanggapi masalah itu, Bedjo sepakat pemerintah menyelesaikan masalah dengan memperketat administrasi. Padahal, administasi yang ada tidak masuk akal.

Ia mengaku memang tidak terlalu penting mengurusi hal administrasi, sebab akan menghilangkan hal yang subtansi. Bagi Bedjo, yang penting membuat anak pintar. Ia percaya anak bisa mengembangkan sendiri potensinya. Tugas Bedjo hanya memfasilitasi anak-anak dan mengajarkan sesuatu dengan bahasa yang mudah dimengerti anak. “Yang penting dia bisa,” kata Bedjo.

Bedjo sekali lagi mengatakan masalah administrasi kurang penting. Ia menceritakan pengalamanya sehari-hari. Sebagai dosen ia diwajibkan untuk melakukan absen tiga kali sehari. Namun, ia enggan melakukanya, sebab ia merasa sudah bekerja. Beberapa kali ia dipanggil atasan untuk mempertanggungjawabkan itu. Namun, ia selalu mengelak. “Hal subtansi kan jadi menghilang,” kata Bedjo.

Membangkitkan Pedagogik UNJ

Selain itu, Bedjo menceritakan pengalamanya saat berkumpul dengan asosiasi LPTK se-Indonesia. Menurutnya, diskusi mengenai pedagogik itu sulit dilakukan. Sebab, sebagian besar rektor yang tergabung dalam asosiasi LPTK tak paham mengenai ilmu pedagogik. Hal itu yang menyulitkan Bedjo untuk berdiskusi dengan mereka. Alhasil, sebagian Rektor hanya menuruti intruksi dari Menristekdikti. “Mereka tidak ada gambaran mengenai ilmu pendidikan, jadi ikut ikut saja,” kata Bedjo.

Yana Supriatna, Dosen Universitas Bung Karno, menanggapi masalah ini. Ia menawarkan kepada anggota diskusi untuk memperkuat riset pedagogik di UNJ. Fakultas Ilmu Pendidikan bisa menjadi ruang pengembangan pedagogik itu.

Baginya, bila pedagogik di UNJ sudah dianggap sebagai ilmu, maka perlu dikembangkan. Dengan bantuan ahli pedagogik di UNJ, niscaya Ilmu pedagogik bisa diperdalam. “Kita bisa mengembangkan itu. Kalau unj tidak garap, bisa diambil lembaga lain,” kata Yana.

Jimmy Paat, dosen program studi Bahasa Perancis UNJ, menanggapi pernyataan Yana. Menurutnya, perlu ada Fakultas yang menaungi pengembangan pedagogik di UNJ. Sebab, istilah pedagogik saja bukan menjadi bahasa yang dipahami civitas akademika UNJ.

Jimmy ingat pernah menawarkan profesor Universitas Indonesia untuk membuat fakultas pedagogik. Namun, profesor itu mengatakan tidak mudah untuk membuat hal itu.

Jimmy juga menolak adanya PPG. Menurutnya, bila UNJ serius mengembangkan pedagogik dan mengajarkan kepada mahasiswanya selama 4 tahun, maka PPG tak dibutuhkan. “4 tahun lebih baik, kalau sungguh-sungguh,” kata Jimmy.

Lody Paat, pensiunan dosen program studi Pendidikan Luar biasa UNJ, turut merespon dikusi ini. Menurutnya tanpa struktur yang kuat, pengembangan pedagogik tak dapat berjalan. “Tak ada gunanya,” kata Lody.

Ia berharap alumni UNJ bersatu agar dapat membentuk struktur itu. Sebab, mengembangkan pedagogik tak cukup mempelajari satu bidang ilmu saja. Perlu berbagai macam perspektif mengenai pendidikan untuk bisa mengembangkan hal itu.

“Kita harus punya framenya filsafat, psikologi pendidikan, sosiologi. Dan kita semua tidak dididik untuk itu,” kata Lody.

Sekitar pukul 16.00 WIB diskusi usai. Perbincangan ini diadakan IKA UNJ di Sekretariat IKA UNJ di Gedung Pascasarjana UNJ (27/03). Diskusi ini bertajuk Historisitas IKIP menjadi Universitas Bagian II. Tiap Rabu akhir bulan, diskusi ini diadakan untuk membahas masalah pendidikan yang ada di UNJ.

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.