Hafidz Abbas : Rektor Baru Harus Membawa UNJ Bereputasi Asia

Statuta UNJ sudah disahkan, saat ini, UNJ kian sibuk mempersiapkan pemilihan rektor. Sebagai ketua Senat UNJ, Prof. DR. Dr. Hafidz Abbas bertugas untuk mempersiapkan serta melaksanakan pemilihan rektor. Tugas ini tertuang dalam Statuta UNJ 2018 (16/7).

Hafidz mengatakan satu syarat menjadi  rektor UNJ ialah memiliki program yang sesuai dengan Visi UNJ, yaitu menjadi perguruan tinggi bereputasi Asia. “Harus membawa UNJ ke tingkat international,” kata anggota Komnas HAM RI 2012-2017 ini.

Oleh karena itu, senat UNJ membuat 6 garis besar yang harus dimiliki bakal calon rektor, yaitu:

1. Menyusun Strategi Peningkatkan Reputasi akademik (Academic Reputation) UNJ dengan indikator peningkatan jumlah Program Studi terakreditasi sangat baik di tingkat nasional dan di tinggkat ASEAN.

2. Menjadikan UNJ sebagai pusat unggulan dan rujukan standar di bidang kependidikan di tingkat nasional

3. Meningkatkan reputasi SDM UNJ dengan indikator jumlah dan kualitas dosen bergelar profesor meningkat; jumlah dan kualitas penelitian serta pengaruhnya (citation) dan kontribusinya pada PNBP juga meningkat.

4. Meningkatkan reputasi lulusan (Graduate Employability) yang berjiwa entrepreneur dan mampu berkarya secara profesional

5. Meningkatkan suasana Kampus UNJ yang kondusif bagi pelaksanaan kegiatan tri dharma perguruan tinggi dengan memenuhi fasiltas pembelajaran dan penelitian serta penciptaan lingkungan kampus yang hijau, nyaman, bersih dan zero conflict.

6. Meningkatkan kerjasama internasional dengan mendatangkan mahasiswa asing, pengiriman dosen keluar negeri, dan mendatangkan guest lecturers dari universitas bereputasi.

Selain keenam konsep itu, Hafidz memiliki beberapa indikator ideal supaya rektor baru bisa membawa UNJ menjadi perguruan tinggi international.

Pertama, sistem pengajaran universitas perlu ditingkatkan. Kurikulum UNJ tidak bisa asal dibuat. Ia berharap semua dosen yang mengajar lulusan S3. Ia juga ingin memperbanyak Guru Besar. “Supaya Sumber daya kita berkualitas,” kata Hafidz.

Kedua, penelitian ilmiah civitas akademika diakui dunia. Di Columbia University, sebagian besar dosen mendapatkan hadiah Nobel. Lantaran, kampus tidak segan-segan mengeluarkan dana besar untuk penelitian dosen. “Penelitian paling kecil diberikan dana sekitar 3 milyar,” kata Hafidz Abbas. Namun Hafidz sadar, UNJ tidak memiliki uang sebanyak itu. Apalagi, fasilitas keilmuan seperti perpustakasan tidak memadai untuk melakukan penelitian.

Ketiga, UNJ perlu meningkatkan publikasi ilmiah. Semakin banyak hasil riset dikutip, maka semakin tinggi bobot universitas. Keempat, kerjasama international terkait mahasiswa dan dosen. Sebagian besar universitas international memiliki mahasiswa asing yang menempuh studi dikampusnya. “Universitas bereputasi itu, mahasiswa asing dan dosen asing banyak,” kata Hafudz.

Kelima, produk universitas bisa digunakan industri. “Misalnya, prodi mesin UNJ bisa menghasilkan Handphone dan digunakan industri. Hal ini bertujuan supaya produk penelitian menjadi sumber pendapatan negara,” kata Hafidz.

Ada delapan tahap yang harus diikuti calon rektor, salah satunya ialah penyampaian visi, misi, dan program kerja pada Rapat Terbuka Senat di 22 Agustus 2019. Proses pemilihan rektor berlangsung selama dua bulan, dari 26 Juli hingga 26 September 2019.

Tugas Senat UNJ

Selain mempersiapkan pemilihan rektor, Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan ini mengatakan ada empat tugas senat yang tertuang dalam Statuta UNJ.

Pertama, mengawasi kinerja rektor. Hal ini bertujuan agar rektor tidak melakukan penyimpangan. Kedua, pengawasan kebijakan universitas. Ketiga, memberikan pertimbangan seperti memberikan saran untuk membuat prodi baru atau memberikan gelar Honoris Causa kepada Tokoh Nasional. Terakhir, senat berkewajiban membuat laporan kinerja universitas secara komprehensif untuk disampaikan kepada masyarakat.

Bagi Hafidz, fungsi senat universitas sebagai lembaga legislatif sekaligus yudikatif. Sedangkan, rektor sebagai lembaga eksekutif. “Tugas senat tidak melaksanakan kebijakan. Tapi yang melaksanakan adalah rektor,” kata Hafidz.

Senat bertugas membuat norma-norma akademik sekaligus memberikan sanksi. Namun, sanksi yang diberikan terbatas. Senat sekedar memberikan sanksi moral saja. “Tidak seperti kehakiman yang ketok palu,” kata Hafidz.

Fungsi senat diperkuat dengan pembagian tugas yang diberikan kepada anggota senat. “Ada yang bertugas mengembangkan sumber daya dan ada yang khusus bertugas memberikan sanksi etika,” kata Hafidz.

 

Penulis : Hendrik Yaputra

 

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.