Diskusi IKA UNJ: FIP Sebagai Pusat Pengembangan Ilmu Pendidikan

 

 

Hendrik Yap,

Rabu, 27 Februari 2018, IKA UNJ mengadakan diskusi pedagogik dengan tema “HIstoritas IKIP ke Universitas” dengan Pembicara Rektor IKIP Jakarta/UNJ 1997-2005 Prof.Dr. Sutjipto. Kegiatan berlangung di Sekretariat IKA UNJ di Gd. Pascasarjana Pukul 14:10 s.d. 17:00 WIB. Rencanannya kegiatan ini akan berlangsung tiap satu bulan sekali.

Diskusi dibuka oleh Redaktur Pelaksana Portal Berita Alumni UNJ, Abdullah Taruna, yang bertindak sebagai moderator. Ia mengatakan tujuan diskusi pedagogis untuk mem-branding UNJ sebagai kampus pendidikan. Alasannya, kampus ini memiliki banyak professor yang ahli ilmu Pedagogik. “Harus kita branding lagi, sehingga begitu masyarakat intelektual menyebut kampus pendidikan, maka yang mereka maksud adalah UNJ,” kata alumni mahasiswa Pendidikan Sejarah ini.

Selanjutnya, Abdullah menceritakan pengalamannya di masa sebelum perubahan IKIP menjadi Universitas pada 1996. Saat itu, ia adalah salah satu anggota Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika UNJ. Didaktika dan semua Ormawa diundang pihak kampus untuk mendengar sosialisasi perubahan IKIP ke Universitas.

Didaktika hadir. Setelah pihak kampus selesai memberikan informasi, Edi Budiyarso Pemimpin Redaksi LPM Didaktika, dan juga Karmani-Pemimpin Umum, maju ke depan dan memberikan pendapat atas sosialisasi rencana konversi IKIP. Menurut Edi, perubahan itu akan menghilangkan fokus Pedagogik IKIP sebagai kampus LPTK. “LPTK menjadi tidak fokus terhadap pedagogik,” kata Abdullah menirukan kalimat terakhir pendapat tertulis yang dibacakan oleh Edy Budiyarso dan Karmani.

Sutjipto menyangkal hal itu. Menurutnya, perubahan IKIP menjadi Universitas tidak berarti menghilangkan jiwa kependidikannya. Meskipun ada ilmu non pendidikan,  nantinya hal itu malah memperkuat ilmu pendidikan yang ada. Baginya, calon pendidik perlu memahami ilmu non pendidikan untuk meningkatkan kualitas mengajarnya.

Sutjipto juga tidak khawatir transformasi itu mematikan ilmu pendidikan. Sebab, bagi Sutjipto kampus hanya sebagi tempat. Bukan hal yang  yang menentukan berkembang atau matinya ilmu pendidikan. Selama masih ada fenomena di masyarakat, ilmu mampu untuk menjelaskan fungsinya. “Fungsi ilmu yaitu menjelaskan serta memprediksi fenomena yang akan terjadi,”kata Sutjipto.

Tidak berkembangnya ilmu pendidikan di Indonesia, menurut Sutjipto karena minim penelitian mendalam tentang pendidikan yang khas Indonesia.

Menanggapi usulan ide Aktivis dan Pengamat Pendidikan UNJ Jimmy Ph Paat, agar para mahasiswa dibebaskan memilih mata kuliah yang dibebaskan, dan tidak dibelenggu mata perkuliahan Prodi, Prof.Dr. Sutjipto menganggap hal itu sebagai ide yang baik, yang bisa memotivasi para mahasiswa untuk mengembangkan ilmu, dan tujuan kuliahnya.

“Intinya kita menyesuaikan program itu dengan kebutuhan-kebutuhan real. Jadi kalau misalnya di Prodi ada mata kuliah yang tidak perlu, bisa diganti dengan mata kuliah lain, yang memang relevan sesuai dengan cita-cita mahasiswa yang ingin menjadi apa. Tidak bebas sama sekali untuk mengambil, tapi itu di-design  programnya bersama-sama dengan advicer-nya (penasehat akademis), untuk inilah saya ingin mengambil ini selama saya belajar,” kata Prof.Dr. Sutjipto.

Prof.Dr. Sutjipto mengingatkan, bahwa motivasi belajar itu sangat penting perannya dalam mendorong para peserta didik meraih sukses. Ia mencontohkan Sistem pendidikan di China yang sesuai dengan di Indonesia. Di China, pendidik perlu menanamkan kepada murid tiga hal, yaitu visi yang hendak diwujudkan, tanggungjawab murid untuk mewujudkan visi, dan kebanggaan untuk merealisasikan visi.

Jimmy Paat, selaku Dosen Bahasa Perancis, sepakat bahwa FIP dapat dijadikan sebagai tempat fokus mengodok pendidikan. Karena FIP, mengutip Tilaar, bahwa sudah menjadi tempat yang direncanakan menjadi fakultas yang fokus mengodok ilmu pendidikan. “Ilmu pendidikan FIP harus menjadi roh,” kata Jimmy.

Jimmy juga setuju dengan pendapat  Sutjipto mengenai prodi. Mahasiswa perlu diberikan ruang untuk memilih mata kuliah yang ingin dipelajari. “Kampus itu harus punya menu, mahasiswa harus diberi hak untuk memilih,” kata Jimmy.

Alumni Bahasa Arab IKIP Jakarta, Yana Supriatna yang kini menjadi dosen Universitas Bung Karno, megatakan, di IKIP filsafat pendidikan tidak diajarkan. Ia mengetahui filsafat pendidikan dari membaca buku dan berdiskusi dengan senior. Padahal, ia menganggap pemahaman mengenai ilmu pendidikan berguna untuk guru.

Akan tetapi, ia setuju dengan Sutjipto dan Jimmy, FIP perlu menjadi pengembang ilmu pendidikan.  “FIP harus menjadi ciri khas yang tersendiri,” kata Yana. Sebab, masalah pendidikan hingga kini masih ada. Oleh karena itu, peru dikembangkan.

 

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.