Prof Conny Semiawan Akan Bicara Pedagogik Anak Zaman Now

 

 

 

Abdullah Taruna,

Setelah melakukan serangkaian Diskusi Reboan Pendidikan selama 3 bulan terakhir, Forum Diskusi Pedagogik (FDP) IKA UNJ Rabu, 26 Juni 2019 kembali akan menyelenggarakan diskusi pendidikan. Tema diskusi yang dirumuskan oleh Tim FDP adalah “Pedagogik untuk Mencerdaskan Anak Zaman Now”. FDP memilih Prof. Dr. Conny R. Semiawan sebagai pembicara. Sebagaimana para pakar, pemerhati pendidikan, dan masyarakat akademik ketahui, Prof. Conny merupakan Pakar Pendidikan Anak Berbakat & Anak dengan Keluarbiasaan Ganda.

Menurut Ketua Tim Ahli Pedagogik FDP IKA UNJ Jimmy Philip Paat, langkah menghadirkan Prof. Dr. Conny R. Semiawan memiliki dua tujuan. “Bagi saya pribadi, mengajak Ibu Conny, yang  seorang ahli pedagogik itu untuk menghidupkan ilmu tersebut di kampus kita (UNJ: RED.), “ ungkap Jimmy Ph. Paat via pesan watts up.

Jimmy menambahkan, bahwa Prof. Conny Semiawan adalah sarjana pendidikan generasi pertama yang mengenal baik apa itu pedagogik.

Tujuan kedua, tambah Jimmy, untuk meluruskan pembahasan isu pendidikan agar tidak mengabaikan perspektif pedagogik. “Dan kita mencoba mengingatkan kepada LPTK (Lembagai Pendidikan Tenaga Kependidikan: Red.), bahwa pembahasan tentang pendidikan yang banyak beredar sekarang di media cetak, elektronik (termasuk pembahasan Zonasi yang ramai sekarang)  menurut saya tidak dilihat dari sudut pedagogik,” tulis Jimmy.

Jimmy Ph. Paat kemudian menjelaskan pandangannya tersebut. Menurutnya, isu utama pendidikan semestinya merupakan langkah untuk memerdekakan manusia (murid/ siswa/ peserta didik). “Kalau merujuk ke KHD (Ki Hajar Dewantara) buat saya,  pendidikan itu berkaitan dengan memerdekakan manusia (baca anak murid) sehingga harusnya dilihat dari segitiga pedagogik. Ini berarti kita bicara yang terjadi di kelas atau sekolah,” terang Jimmy.

Merujuk “Segitiga Pedagogi”dari Jean Houssaye, seorang pedagog Perancis, Jimmy menyebutkan, bahwa segi tiga itu dilihat dari setiap sisi: savoir (pengetahuan); enseignant (guru), dan  étudian (murid).

Dalam relasi antar sisi itu, tulis Jimmy, hubungan antara murid  dengan guru itu disebut relasi pedagogis; hubungan anak (murid: Red.) dengan pengetahuan itu disebut hubungan belajar; dan hubungan antara pengetahuan dengan guru itu disebut hubungan mengajar.

“Sesungguhnya bicara pendidikan atau lebih tepat pedagogik adalah bicara segitiga pedagogis ini, “ tulis Jimmy menegaskan.

Relasi pedagogis tersebut, kata Jimmy,  arahnya adalah kemerdekaan pada anak; relasi belajar (murid dengan pengetahuan) guru mengundang anak belajar untuk belajar, ujungnya belajar mandiri; relasi guru dengan pengetahuan, ini disebut juga relasi didaktik, pengetahuan yang disampaikan pada anak, ujungnya juga agar anak merdeka.

“Zonasi buat saya tidak memecahkan masalah. Zonasi kalau baca Permennya (Peraturan Menteri: Red.) tidak mengarah pada pembahasan pedagogik, tetapi lebih pada tata kelola,” ungkap Jimmy.

Menurut Jimmy F. Paat, gaduh soal zonasi sekolah itu terjadi karena banyak orang tua yang kenyamanannya terganggu.  “Saya melihat gonjang – ganjing zonasi ini lebih banyak karena suara para orang tua yang merasa kenyamanannya terganggu karena zonasi. Saya perkirakan ini suara orang tua kelas menengah yang mempunyai pemahaman tentang pendidikan yang buat saya perlu dibongkar. Mereka berlindung di bawah  kata “keadilan”. Sepengamatan saya orang tua kelas bawah tidak sibuk dengan zonasi. Perkiraan saya para orang tua kelas bawah lebih tertarik pada persoalan kualitas pendidikan, hanya sayangnya mereka tidak bersuara,” terang Jimmy Ph. Paat.

 

 

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.