Dr. Komarudin: Kelas Merupakan Ruang Dialog untuk Mengembangkan Potensi

Persoalannya sudahkah cara pandang tersebut menjadi kesadaran bersama para dosen dan guru? 

Abdullah Taruna,

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Rektor II Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr.Komarudin, M.Si., menanggapi gagasan Drs.Setiadi Sulaiman tentang Proses Belajar dan Mengajar yang Mencerdaskan, dalam Diskusi Pendidikan Nasional yang diselenggarakan IKA UNJ beberapa waktu lalu.

Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Dr. Sofiah Hartati, M.Si., Ubaidillah Badrun (Dosen UNJ), dan Yana Priyatna (Dosen Universitas Bung Karno) juga hadir sebagai pembicara dalam  diskusi yang  dimoderatori  oleh Ketua Umum IKA UNJ Juri Ardiantoro, Ph.D. Para dosen senior seperti Drs. Setiadi Sulaeman, Dra.Budiarti, M.Pd., dan sejumlah alumni UNJ juga aktif mengiktui diskusi tentang persoalan pendidikan di Indonesia itu.

Komarudin melanjutkan, bahwa  ruang  dialog  dalam proses belajar dan pembelajaran itu seringkali tidak terbentuk. Penyebabnya tidak semua guru, dan dosen memiliki kesadaran itu. “Problemnya itu sehingga yang terjadi  transfer of knowledge,” kata Komarudin yang pernah mengajar  di sebuah SMEA di Jakarta.

Kelas dipandang sebuah ruang transfer of knowledge itu, kata Komarudin, bukan hanya oleh guru di sekolah, tapi pada  masa lalu pernah ada juga dosen yang memberi  kuliah dengan cara pandang seperti itu. “Mahasiswa duduk di kelas itu tidak boleh tengak-tengok, jangankan ngobrol dengan teman, bertanya pun tidak boleh di pertengahan, bolehnya di akhir. Begitu selesai, waktu habis, kapan mahasiswa bisa bertanya,” ungkap Komarudin tentang pengalamannya kuliah pada 1985-1986.

Menurut Komarudin, dengan berangkat dari cara pandang kelas sebagai ruang  dialog dan pengembangan potensi, maka itu berarti pendidik mendudukkan posisi siswi-siswa, dan mahasiswa sebagai  subyek yang aktif dalam proses belajar mengajar tersebut. 

“Jadi kita harus menciptakan kelas sebagai ruang dialog dan pengembangan potensi, sehingga mahasiswa dan siswa menjadi subyek yang aktif,” kata Komarudin.

Komarudin memberikan contoh dalam mendudukkan siswi-siswa sebagai subyek yang aktif dalam proses belajar mengajar bidang studi Pendidikan Moral Pancasila dan Kewarganegaraan (PMPKN). 

“Saya pernah mengajar pada tahun 1988-1989, saya  mengajar PMPKN itu, PMPKN itu mengajar hafalan pasal-pasal, ayat-ayat, butir-butir sila-sila Pancasila,” kata Komarudin.

Mengajar dengan cara menghafal seperti itu, lanjut  Komarudin, begitu membosankan, baik buat guru, maupun para siswi-siswa. Komarudin kemudian mencari solusi untuk mengatasi kebosanan itu.

“Akhirnya saya mencari model seperti apa? saya hadirkan peristiwa aktual di luar ke dalam kelas, dan saya kaitkan dengan mereka itu nanti akan bekerja di mana, karena mereka anak-anak SMEA, mereka akan bekerja di perusahaan, maka problematik yang ada di luar itu masuk di dalam kelas,” ungkap Komarudin.Model belajar mengajar tersebut berhasil menjawab kebuntuan di dalam kelas. “Ternyata mereka senang, karena itu memberikan bekal bagi mereka tentang nilai-nilai apa yang akan mereka pakai ketika mereka bekerja. Dan mereka mengakui setelah lulus, “ini yang lebih bermanfaat. Kalau pasal-pasal saya pusing Pak, kata mereka. Tapi kemudian saya tidak lama, karena tahun 1991 saya disuruh jadi dosen, saya dipanggil  ke Kanwil, saya nggak bisa, kemudian saya keluar (dari guru SMEA: Red.),” papar Komarudin.

Model pembelajaran yang diterapkannya, namun belum pernah ditulisnya Komarudin, di kemudian hari popular di kalangan guru dan dosen sebagai Metode Pembelajaran Konstekstual sebagaimana diperkenalkan oleh Dosen IKIP Surabaya (UNESA) Prof. Dr. H. Muchlas Samani, M.Pd.

Guru Besar UNESA Surabaya tersebut, menjabat Rektor UNESA 2010 – 2014.  Samani menyelesaikan program doktor di bidang Penelitian dan Evaluasi Pendidikan di IKIP Jakarta Tahun 1991.

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.