Diskusi Memeluk Erat Papua

Farhan Nug

Fengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UNJ menggelar diskusi bertajuk “Memeluk Erat Papua” di Kedai Kopi Kafein Kampus A Universitas Negeri Jakarta, Jumat (20/9).

Hadir sebagai pembicara, Khairi Fuady, S.sos (Pimpinan Lembaga Al-Mahabbah Foundation), Satrio Priyo Utomo, M. Hum (Sejarawan Muda), Ludia Maryen S.Pd (Miss Papua 2018), dan Moh Nasir Tokomadoran, S.Pd.I MM (Tokoh Papua).

“Kita sama-sama merangkul dan memeluk Papua agar mereka tidak merasa dibedakan, tidak merasa, dihargai, dan disingkirkan dari NKRI ini,” ujar Khairi.

“Kita harus menjaga semangat kebhinekaan untuk saudara kita di Papua karena Papua adalah Indonesia,” tambah Khairi.

Menanggapi hal itu, Satrio, menjelaskan proses Papua bisa masuk kedalam pelukan NKRI sampai hari ini, serta dinamika politik dan ekonomi yang turut menyertainya.

Oleh karena itu, Satrio menyatakan tidak sepakat dengan pandangan bahwa Papua harus referendum.

“Saya kurang sepakat dengan statement untuk membawa Papua dalam diskusi referendum. Negara Republik tidak didirikan dengan referendum,” katanya.

Satrio mengungkapkan kasih sayang ialah salah satu cara menjaga hubungan baik dengan masyarakat Papua.

“Papua itu tidak butuh uang, tetapi Papua butuh kasih sayang. Kita sebagai generasi milenial harus bijak dalam memilah informasi agar tidak menimbulkan perpecahan antar ras, suku, budaya, maupun agama“ tutupnya.

Ludia, Miss Papua tahun 2018, menceritakan pengalaman menariknya sebagai seorang Miss Papua. Ketika berkegiatan didalam negeri maupun diluar negeri, ia mengaku, dalam beberapa kesempatan mendapatkan perlakuan rasial dalam bentuk psikis. Namun, ia tidak menghiraukan hal itu. Ia hanya ingin menunjukan bahwa perempuan Papua juga bisa berprestasi.

“Saya adalah perempuan Papua yang sedang berproses, saya membalasnya dengan tindakan dibuktikan dengan berprestasi. Apabila kita mengalami rasisme, tunjukan dengan prestasi bukan dengan berdiam diri,” ungkapnya.

Ludia mengaku, ia tetap mencintai Indonesia dengan beraneka ragam suku dan budayanya. Ia berharap kasus yang belakangan menyoroti masyarakat Papua bisa segera terselesaikan dan bangsa ini kembali hidup saling bergandengan.

“Saya sebagai masyarakat Papua menuntut keadilan dalam konflik ini agar dapat terselesaikan,”katanya.

Acara ini diakhiri dengan mengikrarkan kalimat perdamaian yang mengutuk segala tindak provokasi terhadap kehidupan bernegara di Indonesia.

Deklarasi ini dipimpin oleh Polymandersen, seorang mahasiswa afirmasi UNJ asal Papua.

Poin-poin dalam deklarasi perdamaian tersebut antara lain:

1. Kami pemuda dan pemudi Papua siap menjaga keutuhan NKRI dari Sabang sampai Merauke.

2. Kami akan bergandeng komitmen untuk menjunjung Bhinneka Tunggal Ika di tanah Papua dan seluruh pulau didalam NKRI.

3. Kami menghimbau semua masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi baik oleh oknum yang ingin memecah belah tanah air.

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.