Diskusi IKA UNJ : Perubahan IKIP menjadi Universitas

 

Hendrik Yap,

Rabu, 27 Februari 2019, Ikatan Alumni (IKA) UNJ mengadakan diskusi pedagogik dengan tema “Historisitas IKIP ke Universitas”. IKA UNJ mengundang Prof.Dr. Sutjipto, Rektor IKIP Jakarta /UNJ 1997-2005. Kegiatan berlangung di Sekretariat IKA UNJ di Gd. Pascasarjana pada pukul 14:10 WIB hingga 16.30 WIB. Rencananya, diskusi pendidikan ini akan diadakan tiap satu bulan sekali.

Latar belakang konversi IKIP Jakarta menjadi Universitas dijelaskan oleh Sutjipto. Sebelum menjadi Universitas, ketika rapat senat, banyak senat yang tidak setuju perubahan IKIP Jakarta menjadi Universitas. Tetapi, Sutjipto mencoba meyakinkan mereka agar menerima keputusan ini. Setelah itu, para senat sepakat mengubah IKIP menjadi Universitas. “Pada bulan Agustus 1999 bersama dengan 4 kampus IKIP lainnya, IKIP Jakarta diresmikan menjadi Universitas Negeri Jakarta,” kata Prof.Dr. Sutjipto.

Baginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap perguruan tinggi, menjadi satu sebab perubahan itu. Pada konteks itu, IKIP dipandang sebagai kampus kelas dua. Lantaran, mahasiswa IKIP lemah dalam menguasai materi. Padahal, mahasiswa IKIP dapat mengembangkan materi dari fasilitas laboratorium yang disediakan. Namun, lab  itu hanya standar untuk pembelajaran saja, bukan standar research, jadi di bawah standar universitas,” kata Sutjipto.

Puncak ketidakpercayaan pemerintah kepada kualitas guru IKIP terjadi ketika Ditjen Dikti kemudian menugaskan UI, ITB, IPB untuk menghasilkan guru diploma 3. Proyek percontohan ini, tambah Sutjipto, semula akan dikembangkan ke universitas-universitas favorit lainnya. Namun rupanya terkendala biaya. Sebagai gantinya Ditjen Dikti mengirim para dosen IKIP kuliah ilmu murni di UI dan ITB.

Rupanya persentuhan para dosen yang dikirim ke UI dan ITB, dengan para mahasiswa ilmu murni, lanjut Sutjipto, telah mengubah cara pandang dosen-dosen IKIP.  “Sebagai calon guru, mahasiswa IKIP tidak boleh belajar satu bidang ilmu atau kultur saja. Mereka harus memahami bidang llmu atau kultur lain. “Sehingga memiliki wawasan yang luas,” kata Sutjipto.

Namun, Jimmy Ph Paat, tak menampik bila ada sebuah masalah dalam suasana akademik di IKIP Jakarta. Ia mengatakan, civitas akademika IKIP tidak mampu mengembangkan niat mahasiswa untuk membaca buku ilmu pendidikan. Dan ilmu pendidikan yang dipelajari harus bisa membaca kondisi keadaan dan kebutuhan anak Indonesia. Sebab, selama ini, ilmu pendidikan menganut sistem ilmu pendidikan luar negeri. “Menurut HAAR Tilaar, ilmu pendidikan Indonesia ialah ilmu pendidikan dari luar negeri,” kata Jimmy.

Kendatipun common sense IKIP dianggap perguruan tinggi kelas 2 meluas di masyarakat. Namun Yana Supriatna, dosen Universitas Bung Karno, mengatakan ketika menjadi mahasiswa IKIP pada 1980-an, ia mendapat pengaruh dari seniornya. Seniornya mengatakan, mahasiswa IKIP harus lebih pintar dari mahasiswa Universitas. “Hal itu yang memacu saya,” kata Yana. Selain itu, Yana mengatakan IKIP berubah menjadi universitas itu tanggung-tanggung. “Setelah 20 tahun, sarjana ekonomi UNJ masih kalah dengan sarjana UI dan ITB,” kata Yana.

Budiarti selaku Dosen Pariwisata UNJ mengatakan, meski kini banyak mahasiswa niat menjadi guru. Sebenarnya mereka merasa tergelincir masuk UNJ. Budiarti menyarankan  seharusnya UNJ membuka seleksi ketat dalam penerimaan menjadi mahasiswa UNJ. Niat mereka diuji dari seleksi itu. Sebab, bagi Budiarti, guru memiliki tugas mulia untuk mendidik anak. Mereka harus mengajar kerena senang, bukan keterpaksaan. “Mengajar ialah sesuatu yang kita senangi bukan karena keterpaksaan, ” kata Budiarti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.