Conny R Semiawan, Relasi adalah Kunci Utama Pendidikan

Beberapa waktu lalu, muncul berbagai pro dan kontra mengenai sistem zonasi sekolah yang dibuat pemerintah. Menanggapi hal itu, Dosen Bahasa Perancis UNJ Jimmy Paat mengatakan, pembahasan zonasi pemerintah tidak penting. Sebab, perdebatan itu tidak masuk dalam esensi pendidikan. Jimmy lebih menyoroti kurangnya relasi antara guru dan murid. Jimmy berasumsi, hari ini, beberapa guru tidak mampu mengantarkan murid ke ilmu pengetahuan. Alasanya, guru tidak mampu mengemas ilmu pengetahuan dengan menarik.

Menanggapi hal itu, Conny R Semiawan, Rektor IKIP Jakarta 1984 – 1992, mengatakan pemerintah memandang pendidikan dengan nilai pragmatis. Pengetahuan yang diajarkan kepada anak sangat mudah. Hal ini menghilangkan esensi dari pendidikan. Padahal seharusnya, pendidikan mengajarkan anak menghadapi kehidupan dengan baik dan benar. Oleh karena itu, pendidikan harus membuat anak menguasai ilmu pengetahuan.

Kemudahan yang diberikan kepada anak akan mempengaruhi tindakan dan perilaku mereka. Sebab otak manusia merespon berbagai perubahan yang dialaminya. Setiap perubahan lingkungan akan berpengaruh terhadap tingkah laku manusia. “Otak itu ternyata sangat lentur. Engga kaku. Otak tidak hanya jadi besar, tapi juga berubah. Jadi setiap perubahan akan membawa perubahan tingkah laku,” kata Guru Besar UNJ ini.

Bagi Conny, hari ini pendidikan di sekolah kekurangan relasi atau hubungan. Tidak ada relasi antara guru dan murid, bahkan ada jarak pemisah. Padahal hubungan perasaan antar manusia merupakan salah satu esensi pendidikan. “Dia mengerti apa yang dipikirkan dan saya mengerti apa yang dia pikirkan, hubungan batin itu diperlukan,” kata Conny.

Selain peran sekolah, Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia ini melihat kekeliruan orang tua mengembangkan potensi anaknya. Hari ini, banyak orang tua yang mengabaikan hubungan batin dengan anaknya. Orang tua lebih percaya teknologi gadget untuk menyenangkan anaknya, seperti memberikan video Youtube supaya anak diam. Padahal hubungan komunikasi orangtua dan anak sejak dini, mempengaruhi arah perkembangan masa depan anak.

“Ini penyakit masyarakat kita. Kalau bukan kita, siapa lagi yang memperbaiki. Hubungan komunikasi antara Aku dan Engkau. Bukan Aku dan Dia. Engkau saat kecil menjadi basis Engkau besar,” kata Conny.

Selain itu, dalam menjalin hubungan dengan anak, diperlukan komunikasi yang baik. Jangan asal berkomunikasi saja. Komunikasi perlu mengandung empati, supaya terjalin rasa satu sama lain.

Bagi Conny, hubungan batin bertujuan memunculkan kesadaran yang belum disadari anak. Kesadaran itu terletak di tengah-tengah antara kesadaran dan di bawah sadar. Jadi, komunikasi bertujuan untuk memunculkan kesadaran yang belum disadari itu.

Obrolan ini diselenggarakan IKA UNJ dengan tema “Pedagogik untuk Mencerdaskan Anak Zaman Now” di kediaman Conny R Semiawan, Jalan Brawijaya No VIII, Kebayaran Baru, Jakarta (26/6). Selain Jimmy Paat, hadir beberapa pengurus IKA UNJ, yaitu Juri Ardianto (Ketua IKA UNJ), Abdullah Taruna, Yatna Supriatna, dan Rahmat Edi Irawan. Hadir pula Budiarti (Dosen Pariwisata UNJ), beberapa alumni Pendidikan Sejarah UNJ, serta pengurus LPM Didaktika UNJ.

Penulis : Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.