Conny R Semiawan, Kemunduran Kajian Pedagogik Indonesia

Conny R Semiawan, Rektor IKIP Jakarta periode 1984-1992, kaget mendengar mulai pudarnya kajian Pedagogik terutama di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Conny mendengar pernyataan itu dari Jimmy Paat, dosen Bahasa Perancis UNJ di Kediaman Conny, Jalan Brawijaya No VIII, Kebayoran Baru, Jakarta (26/6). Jimmy merasa Conny R Semiawan yang pada 1970-an pernah mengajarkan serta mengembangkan salah satu ilmu Pedagogik, yaitu Neuro Education, perlu mengetahui hal ini.

Mendengar hal itu, Conny merasa sedih. Padahal ia pernah ditawarkan Dekan Fakultas Psikologi UI untuk untuk membuat jurusan Pedagogik di Fakultas Psikologi UI. Namun, Conny menolaknya. Alasannya, kondisi kesehatan Conny tidak memungkinkan.

“Saya mengajar di fakultas Psikologi UI sudah hampir 40 tahun. Dekan di sana, meminta saya untuk membuat Jurusan Pedagogik. Tahun lalu, saya masih mengajar di sana. Tapi saya tidak menceritakan kepadanya kondisi saya. Saya memang masih bisa menulis, masih bisa membaca, masih bisa main Piano, namun karena dua kali saya jatuh pecah tulang saya. Ada yang masih sembuh ada yang memar. Saat jatuh untuk ketiga kalinya, engga sembuh sampai sekarang,” kata Guru Besar UNJ ini.

Conny mengaku bertambah menyesal, saat mengetahui masih ada yang berminat mengkaji Pedagogik. Ia melihat di UNJ masih ada sebuah kelompok yang berminat menekuni Pedagogik. Namun, lantaran tak ada wadah mengembangkan Pedagogik, mereka kesulitan mengakses informasi.

Meski begitu, Conny tidak terlalu menyesal. Sebab, setelah tidak menjabat Rektor IKIP Jakarta, ia bersama guru-guru Labschool mengembangkan penelitian Pedagogik. Tujuanya untuk mengembangkan kreatifitas peserta didik. Hasilnya, Conny bersama teman-teman mampu mengembangkan sistem operasi kreatif. Sistem ini melarang guru mengajarkan peserta didik untuk menghafal. Tugas Guru yaitu memunculkan serta mengembangkan kreatifitas dalam sel otal anak. “Ngajarnya harus kreatif, tak boleh ngafal,” tegas Conny.

Pedagogik Tidak Berkembang
Salah satu alasan pedagogik tidak berkembang karena pemerintah tidak serius mengembangkan Pedagogik. Barack Obama, saat mengetahui Ilmu Neuro Sains berpengaruh untuk mengembangkan Ilmu pendidikan, langsung mengumpulkan para ahli saraf. Mereka ditugaskan untuk meneliti neuro sains. Kemudian, hasil penelitian itu disesuaikan untuk mengembangkan dunia pendidikan. “Di sini berbeda,” kata Conny.

Apalagi, selama ini, lanjut Conny, perumus kebijakan pendidikan di Indonesia keliru mendefinisikan pedagogi dengan Pedagogik.
Menurut Conny, Pedagogi berbicara mengenai hakikat manusia dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan, Pedagogik membicarakan ilmu pendidikan yang memerlukan bantuan dari teori sosial lainnya. Selain itu, kelahiran Pedagogik tidak terlepas dari ilmu psikologi. “Kalau bicara Pedagogik itu bicara soal teori-teori. Seperti psikologi, filsafat, dan sosiologi,” kata Conny.

Conny mengakui menekuni bidang Psikologi Pedagogik. Psikologi adalah ilmu yang berusaha memahami seseorang sebagaimana adanya. Sedangkan, Pedagogik itu mempelajari bagaimana seharusnya menjadi manusia. “Jadi, Psikologi Pedagogik ingin mempelajari manusia itu sebagaimana dia adanya sekarang, dan bagaimana dia dikembangkan menjadi orang yang diinginkan masyarakat dan diri sendiri,” kata Conny Semiawan.

Tujuan Conny mempelajari ilmu ini agar manusia bisa berkembang dan mampu mengembangkan cita-citanya. “Hal itu saya kembangkan dengan mendirikan Labschool,” kata Conny.

Selain Jimmy, hadir beberapa pengurus IKA UNJ yaitu Juri Ardianto (Ketua IKA UNJ), Abdullah Taruna, Yatna Supriatna, dan Rahmat Edi Irawan. Hadir pula Budiarti (Dosen Pariwisata UNJ), beberapa alumni Pendidikan Sejarah UNJ, serta pengurus LPM Didaktika UNJ. Pertemuan ini diselenggarakan IKA UNJ dengan tema “Pedagogik untuk Mencerdaskan Anak Zaman Now”.

Penulis : Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.