“Buku “Prosa dari Praha” bukan narasi historis yang hitam dan putih”

Pendapat tersebut disampaikan oleh Guru Besar Pendidikan Sejarah UPI Prof.Dr. Nana Supriatna, M.Ed dalam Bedah Buku “Prosa dari Praha”. Kegiatan diskusi di Ampitheater, Bandung, Senin, 10 Agustus 2018 itu diselenggarakan dalam rangka Milangkala (Ulang Tahun) Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah (HIMAS) UPI ke-60.

Para mahasiswa antusias mengikuti bedah buku. Mereka mengisi tak kurang dari 160-an kursi Ampitheater UPI. Selain menghadirkan penulis buku yang diterbitkan Rosda Karya Bandung itu, Himas UPI juga mendatangkan Guru Besar Komunikasi Politik UPI, Prof. Dr. Karim Suryadi, M.Hum, dan Peneliti serta Dosen Manajemen Pemasaran dan Pariwisata UPI, Heri Puspito Diyah Setyorini, M.M. Kedua akademisi dari UPI tersebut menjadi pembahas. Adapun bedah buku tersebut dimoderatori oleh Firizky Farawita dari Pasca Sarjana UPI.

Terkait perspektif tidak hitam putih itu, Nana Supriatna menjelaskan, bahwa masyarakat dalam “Prosa dari Praha” dianalisis dari berbagai aspek. “Dari sisi historis, masyarakat digunakan dalam konteks perjalanan bersama tumbuh dan berkembangnya kolonialisme dan imperialism,” ungkap Profesor Nana Supriatna selaku penulis buku yang dibedah.

Guru Besar Komunikasi Politik UPI, Prof. Dr. Karim Suryadi, M.Hum, yang menjadi pembahas pertama mengungkapkan tiga hal yang membuat “Prosa dari Praha” begitu orisinal. “Pertama plot cerita di Praha yang romantic, yang sepertinya agak ahistoris karena Praha biasanya identik dengan komunisme; kedua, penulisan sejarah -sastra yang bergaya milenial dan tidak kering seperti buku-buku teks sejarah lain membuatnya unik, ceritanya fiktif namun fakta-fakta yang dipaparkan di dalamnya ilmiah dan menggunakan rujukan yang jelas; ketiga misteri tentang tokoh ‘aku’, ‘kamu’, dan ‘dia’ yang dibiarkan menggantung hingga akhir membuatnya berbeda dari prosa-prosa lain yang biasanya menggunakan penokohan dan nama yang jelas,” kata Karim Suryadi.

Terkait penokohan orang pertama tunggal, kedua tunggal, dan ketiga tunggal yang misterius di “Prosa dari Praha”, Heri Puspito Diyah Setyorini selaku pembahas kedua juga melihatnya sebagai sisi positif. “Ada ‘voice’ yang membunyikan tokoh ‘aku’, ‘kamu’, dan ‘dia’ sehingga terasa hidup,” kata Diyah Setyorini.

Diyah Setyorini juga menggaris bawahi, bahwa buku ini membahas dinamika pariwisata. “Pariwisata juga bagian dari ‘komoditas’ yang menjadi kebutuhan konsumsi masyarakat global. Jika tidak disikapi dengan bijak juga menimbulkan konsumerisme,” kata Diyah Setyorini.

Diyah Setyorini melanjutkan, Prosa dari Praha juga menunjukkan alasan orang memutuskan untuk mengonsumsi barang atau jasa, pertama produk menjadi identitas diri, kedua citra diri dipengaruhi oleh brand, ketiga pola sejarah, keempat ideologi dari media massa.

Keempat hal itu menunjukkan peta hubungan masyarakat sebagai konsumen dengan sektor industri. “Di satu sisi, masyarakat ini adalah obyek yang harus dirayu, di sisi lain, masyarakat konsumen dinarasikan sebagai masyarakat yang tidak otonom dan berada di bawah kekuasaan yang dikendalikan oleh pemilik modal,” kata Nana Supriatna tentang isi bukunya.

Nana Supriatna lalu mengingatkan, bahwa pengendalian pemilik modal atas masyarakat konsumen yang benar-benar nyata itu semestinya membuat masyarakat sadar. “Masyarakat sudah seharusnya menjadi konsumen yang cerdas, tidak membeli produk karena pencitraan maupun brand, tapi harus otonom,” kata Nana Supriatna.

Sebagai konsumen pintar, masyarakat mesti tau mana produk yang bermanfaat bagi dirinya, dan juga memiliki komitmen untuk memberdayakan mereka serta tidak merusak lingkungan. Konsumen cerdas, lanjut Nana Supriatna, mampu berpikir merdeka dari semua pengaruh bujuk rayu korporasi global. Bahkan bisa mendidik korporasi untuk tidak merusak lingkungan. “Sebanyak 70 juta ton sampah plastik mencemari Indonesia. 3,5 juta ton dari 70 juta ton itu mengotori lautan nasional,” kata Nana Supriatna seraya menceritakan ditemukannya ikan paus mati dengan perut berisi 8 kilo sampah plastic.

Kekurangan dari buku ini, kata Karim Suryadi ada dua hal. “Buku ini sudah membahas habis konsumerisme, namun dua hal lain belum terbahas, yaitu: ‘celebritization’ dan ‘cynism,” kata Guru Besar Komunikasi Politik UPI. Padahal, lanjut Karim Suryadi, ketiganya diantarkan tiga hal lainnya: investor global, produk global dan informasi global. (Abdullah Taruna)

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.