Benarkah Bung Karno Seorang Pedagog ?

 

 

 

 

 

 

 

 

Selama ini Ir. Soekarno dipandang hanya sebagai politisi  belaka. Ia pernah menjadi guru saat menjadi orang bebas, termasuk saat di pengasingan.

 

Abdullah Taruna

“Sistem pendidikan dan pengajaran Pemerintah Kolonial Belanda hanya menghasilkan kaum buruh lemas (buruh halus) disamping mendidik manusia Indonesia menjadi buruh-buruh kasar. Kaum intelektual yang dibentuk menjadi buruh lemas pun memisahkan diri dari rakyat, “ tulis Yana Priyatna menguraikan sub tema “Pemikiran Pendidikan Bung Karno” yang akan  dipresentasikan dalam Forum Diskusi Pedagogik (FDP) Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta, Rabu, 21 Agustus 2019.

Lebih lanjut Dosen Mata Kuliah Bung Karno di Universitas Bung Karno itu menambahkan. “Sukarno menolak cara-cara Pemerintah Belanda menyelenggarakan sistem pendidikan dan pengajaran,” kata Yana Priyatna.

Terkait penyebab lulusan sekolah-sekolah rendahan yang diselenggarakan penjajah Belanda hanya menghasilkan buruh kasar, dan intelektual yang menjadi buruh lemas, Yana Priyatna menyebut karena mereka menganut paham pemupukan modal (kapitalisme) yang mendorong sistem imperialisme kolonial Belanda membutuhkan buruh  dengan upah sangat murah.

“Sekolah-sekolah merupakan institusi pendidikan untuk mendidik rakyat yang hanya menurut kepada kepentingan-kepentingan imperialisme-kolonialilsme. Rakyat Indonesia menjadi hidup dalam kebodohan. Pendidikan dan pengajaran di masa kolonial Belanda, adalah model institusi untuk pendidikan bagi kaum buruh yang bersemangat buruh (memburuh) belaka,” tulis  Yana.

Sebagai seorang pemimpin, tulis Yana, Sukarno berusaha membongkar selubung kepalsuan dari sistem imperialisme itu di Indonesia. Ia pun membangun model sendiri dalam mendidik rakyat Indonesia. “Selama menjadi guru di Institut Kesatriaan di Bandung milik Douwes Dekker, ia mengajar dengan caranya sendiri,” kata Yana dalam makalah tertulisnya.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana rumusan Pedagogik Bung Karno dalam upayanya mengungkap atau menurut  istilah bahasa Jawa ‘memblejeti” selubung kosmetik sistem imperialisme di Hindia Belanda (Indonesia Pra Kemerdekaan) ?

Untuk mengetahui lebih gamblang jawaban tentang rumusan Pedagogik Bung Karno dan Metode Mengajarnya, mari kita ikuti presentasi Yana Priyatna dalam Diskusi Reboan Pendidikan FDP IKA UNJ di Ruang 104 Gedung Pascasarja UNJ, Rabu, 21 Agustus 2019, Pukul 14:00 s.d. selesai.

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.