Benang Merah: Mengembalikan Fungsi Seni

Berbagai komunitas ada di UNJ, salah satunya komunitas seni bernama Benang Merah. Farhan Nugraha, salah satu pendirinya, mengatakan Benang Merah dibentuk atas pembacaan mereka melihat gerakan mahasiswa hari ini. Banyak mahasiswa yang menyerukan rakyat. Namun, gerakan mereka membosankan. Karena itu, gerakan mereka tidak dilirik mahasiswa lain. “Gerakan mereka monoton,” kata mahasiswa Pendidikan Sejarah 2016 ini.

Maka dari itu, Farhan bersama teman-temannya mencoba menawarkan gerakan berbeda, yakni gerakan seni. Berdasarkan hal itu, dibentuklah komunitas seni bernama Benang Merah.

Farhan mengatakan Benang Merah mengandung arti jalan yang benar. Bagi Farhan, seni harus dikembalikan ke fungsi awalnya, yaitu sebagai alat sosial. “Bahasa Utopisnya seni yang mengkritik kemapanan,” kata Farhan.

Sejarah Benang Merah

Awalnya kelompok ini bernama Teater Fakultas Ilmu Sosial (FIS). Teater ini dibentuk saat Farhan masih menjadi mahasiswa baru di 2016. Saat itu, Farhan dan teman-teman diminta Bem menampilkan teater seni pada Pentas Besar Bem FIS. Tak disangka penampilan mereka disambut baik penonton. Akhirnya, banyak yang ingin menonton penampilan teater Farhan kembali “Ayo dong pentas lagi,” kata Farhan meniru mahasiswa yang membujuknya.

Sejak saat itu, Farhan dan teman-teman ingin membuat komunitas seni. Namun, di 2017 pembentukan komunitas hanya menjadi wacana saja.

Akan tetapi, di 2018, Milla R, mahasiswa Pendidikan IPS, mencoba mengumpulkan teman-teman yang dahulu pernah melakukan pentas Besar di FIS. Selain itu, Mila juga membuka pendaftaran anggota baru. Ada 8 mahasiswa yang mendaftar tapi hanya 2 orang yang diterima.

Setelah itu, Farhan dan teman-teman mencoba menentukan nama komunitas. Akhirnya, dipilih nama Benang Merah.

Selain itu, Benang Merah hadir untuk merespon komunitas Seni yang ada di UNJ. Menurut Farhan, komunitas seni yang ada di UNJ terlalu tergantung kepada properti. Sedangkan, bagi Farhan, seharusnya Seni bisa ditampilkan di mana saja. “Tampil di kantin pun bisa. Jadi tak perlu set dan panggung” kata Farhan.

Kini, Benang merah, sering menampilkan teater dan puisi dalam kegiatan yang diadakan mahasiswa. Benang merah juga pernah menampilkan pembacaan puisi di Monas. Waktu itu sedang diperingati Hari Ketiadaan Tanah. Mereka bekerja sama dengan aliansi Mimbar Bebas.

Saat ini, Farhan mengaku, Benang Merah memiliki banyak hambatan, seperti masalah waktu. Banyak anggota yang memiliki kesibukan lain. Selain itu, karena komunitas belum lama berdiri, komunitas ini sedang merumuskan tujuan dan cita-cita komunitas. Agar komunitas ini mampu membuat kegiatan yang mencerminkan eksistensi Benang Merah.

  1. Penulis : Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.