Batavia Team Kembali Bersiap Mengikuti Lomba International

Batavia Team UNJ usai juara II Nasional

 

Pengalaman Juara II Nasional, Batavia Team UNJ kini optimis memenangi Kejuaraan Skala Internasional.

Hendrik Yaputra,

Di depan Gedung B Fakultas Teknik, beberapa mahasiswa kian sibuk mengotak-ngatik mesin mobil. Mereka sedang mengecek mesin mobil untuk mengikuti Shell Eco Maraton Asia, April 2019. Kelompok mahasiswa itu bernama Batavia Team UNJ. Pada Desember 2018, Batavia Team UNJ meraih juara 2 dalam ajang Kontes Mobil Hemat Energi di Universitas Negeri Padang.

Oleh karena itu, untuk lomba nanti mereka yakin dapat meraih juara dalam perlombaan tersebut. “Kami yakin, dapat mengharumkan almamater UNJ,” kata Muhammad Reyhan selaku Manager General Batavia Team UNJ.

Saat ini, Batavia Team UNJ sudah memasuki tahap upgrade mesin. Dalam tahapan ini, mereka mengecek berbagai spare part yang dibutuhkan untuk mempersiapkan mobil. Bila ada spare part yang tak layak digunakan akan segera diganti. Menurut Reyhan, tahapan ini ditargetkan selesai 15 Februari. Tahap selanjutnya ialah uji mobil atau test drive.

Nantinya, Batavia Team UNJ akan mengikuti lomba dalam kategori Mobil Hemat energi. Mobil yang dilombakan berjenis prototype listrik dan urban gasoline. Lomba ini mengukur kecepatan mobil serta efisiensi bahan bakar yang digunakan. Bahan bakar tidak boleh sampai boros. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama antara pengemudi mobil dan teknisi mobil. “Kita muterin sirkuit. Yang diukur waktu kecepatan, rata-rata ideal, lalu metode berkendara, supaya berkendara hemat,” kata Reyhan.

Oleh karena itu, Batavia Team UNJ menargetkan mobil dapat menempuh kecepatan 30-40 km dalam waktu 3,75 menit perputaran. “Jadi ga bisa terlalu cepat atau terlalu lambat. Terlalu cepat bisa boros, kalau lambat kemungkinan mengejar waktu tak tercapai,” kata Reyhan.

Batavia Team UNJ didirikan sejak 11 Januari 2013. Awalnya, beberapa mahasiswa Teknik pencinta lingkungan meresahkan langkanya bahan bakar fosil. Belum lagi pada 2080, diprediksi bahan bakar fosil akan lenyap. Hal itu yang mendorong mereka membuat mobil dengan bahan bakar hemat energi. “Pendirinya kelompok mahasiswa pencinta lingkungan,” kata mahasiswa program studi (prodi) Teknik Mesin 2016.

Akhirnya dipilih nama Batavia. Menurut Reyhan, secara filosofi, pemilihan nama Batavia mengambarkan peradaban modern di konteks penjajahan kolonial. Menurutnya, waktu itu Batavia merupakan kota maju. Namun, penjajahan kolonialisme membuat kemegahan kota Batavia tidak ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat.

Filosofi Batavia dimaknai dalam dengan keadaan hari ini. Menurut Reyhan sebetulnya teknologi otomotif tidak kalah dengan negara lain. Tetapi, Indonesia tidak eksis karena pasar teknologi dikuasai perusahaan teknologi asing. “Besar dan maju, tetapi masih dalam keadaan terjajah,” kata Reyhan.

Berdasarkan filosofi itu, sejak awal berdirinya Batavia Team UNJ mencoba melakukan penelitian mengenai mobil hemat energi. Tujuanya untuk membuktikan kepada negara lain, Indonesia juga dapat mencetuskan teknologi hemat energi. Oleh karena itu, Batavia Team UNJ banyak mengikuti perlombaan tingkat nasional (Kontes Mobil Hemat Energi) maupun tingkat international (Shell Eco Maraton Asia).

Reyhan mengaku, awal berdirinya Batavia Team UNJ mendapat banyak sindiran dari mahasiswa dan dosen. Apalagi pada perlombaan pertama Batavia Team UNJ – Shell Eco Maraton Asia 2014 di sirkuit Jepang – dibatalkan. Karena sirkuit Jepang menerima dampak kabut asap dari Pulau Sumatera. Kemudian di tahun yang sama, Batavia Team UNJ mencoba menunjukan taringnya dengan mengikuti Kontes Mobil Hemat Energi. Pada perlombaan itu, Tim Batavia UNJ berhasil memperoleh Juara 1 mengalahkan kampus ITS, UI, dan ITB. “Banyak orang ga percaya,” kata Reyhan.

Reyhan mengakui tidak mudah untuk mempertahankan gelar juara yang didapatkan. Salah satu kendalanya ialah kebutuhan dana. Apalagi berpartisipasi dalam satu lomba membutuhkan dana hingga 250juta. “Menyewa container untuk mengangkut mobil saja, membutuhkan 82 juta,” kata Reyhan.

Hal serupa diungkapkan Okda Muharram selaku anggota non-teknis Batavia Team UNJ. Ia mengatakan faktor keuangan menjadi masalah dalam merakit mobil. Ia membandingkan bahan yang digunakan Batavia Team UNJ dengan Team dari kampus Intitut Teknologi Sepuluh November (ITS). Mobil Batavia Team UNJ masih menggunakan bahan fiber untuk badan mobilnya. Sedangkan Team ITS sudah menggunakan bahan karbon. Bahan karbon lebih ringan dan kuat dibandingkan bahan fiber. Batavia Team UNJ tidak dapat membeli bahan itu karena membutuhkan dana sekitar puluhan juta. “Intinya lebih mahal,” kata Okda.

Okda juga mengatakan untuk menutupi kekurangan anggaran, ia berusaha mendapatkan dana dari sponsor dan pihak kampus. Khusus pihak kampus, Okda sadar pihak kampus tak dapat memberikan dana besar. Sebab, organisasi di UNJ bukan hanya Tim Batavia UNJ.

Meskipun begitu, Batavia Team UNJ tidak patah semangat. Menurutnya Solidaritas membuat Team tidak pernah menyerah. Semua anggota Batavia memiliki tujuan sama untuk memberikan yang terbaik. Okda menambahkan suasana kekeluargaan juga memperkuat rasa solidaritas. Rasa kekeluargaan itu terbangun karena tiap hari Batavia Team UNJ mengadakan pertemuan untuk merakit mobil. Bahkan, mereka menyewa kontrakan untuk mempererat satu sama lain. “Batavia itu keluarga, kita makan bareng dan saling curhat. Jadi paham kondisi keluarga satu sama lain. Dan juga tidak ada jarak,” kata mahasiswa prodi Teknik Mesin 2015 ini.

Yusro, selaku dosen Pembimbing Batavia Team UNJ bangga terhadap perjuangan Batavia Team UNJ. Ia berharap kampus lebih memperhatikan Tim Batavia UNJ, terutama masalah dana. “Didukung penuh UNJ, khususnya pendanaan,” kata Yusro.

 

 

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.