Di Usia 190 Tahun Masihkah Masyarakat Lebak ingat Saijah Dan Adinda?

 

“Saijah dan Adinda” Kisah Cinta muda – mudi Tanah Lebak yang mengguncang Parlemen Belanda.

Kabupaten Lebak, Banten terus bersolek. Kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat Lebak yang pernah menjadi materi kritik keras intelektual Belanda Van Deventer yang menulis pidato politik berjudul “Een Eereseschuld” (Hutang Kehormatan) tahun1899 di Parlemen Belanda. Kini sudah berubah menjadi hingar bingar membaiknya perekonomian. Acara ulang tahun Lebak 2018 pun bukan hanya diramaikan band band papan atas. Kirab busana sekelas Jember Fashion Carnival pun digelar. Namanya Lebak Fashion Carnival 2018.

Cerita kemiskinan masyarakat Lebak yang menyayat akibat sistem penindasan kolonialisme dan korporatisme Adipati Lebak zaman kolonial- Kartanagara dan Demang Pangkujang yang memerah keringat rakyatnya.
Tanah subur nan penuh berkah pun tak membuat rakyat Lebak hidup makmur. Sebaliknya, dampak dari Sistem Tanam Paksa yang merkantilis, dan Pemberlakuan Sistem Tanam Paksa yang kapitalistik serta korporatisme Adipati tersebut, rakyat hidup sengsara dalam kemelaratan dan kebodohan. Rakyat diperas dengan sistem pajak kolonial yang mencekik. Sampai-sampai rakyat makan gedebok pisang.

Begitu senjangnya ekonomi rakyat dibandingkan kalangan pejabat, warga Indo Eropa, dan para pengusaha partikelir (investor swasta). Menyaksikan semua itu, Eduard Douwes Dekker-pejabat Asisten Residen Lebak terpantik rundungan kesedihan. Ia memotret penderitaan rakyat Lebak dalam kemasan cerita cinta “Saijah dan Adinda” yang diterbitkan dalam Max Havelaar. Untuk keberhasilan kritiknya itu, Douwes Dekker pun menyamarkan namanya menjadi Multatuli, karena posisinya sebagai asisten Residen Lebak tak mungkin berlawanan secara terbuka dengan kolonial Belanda.
Dikisahkan sepulang dari merantau di Batavia karena terhimpit pajak tinggi, dan keinginan untuk mengumpulkan uang untuk menikahi Adinda, Saijah terpukul kabar bahwa kekasihnya itu telah pergi bersama para pejuang ke Lampung melawan penjajah Belanda. Selain berjuang, Adinda dan ayahnya juga ingin menghindari pemerasan oleh Adipati dan Demang dengan sistem pajak kolonial yang mencekik.

Cerita berakhir memilukan. Harapan Saijah menikahi adinda pupus sudah. Adinda dikabarkan meninggal setelah diperkosa tentara Belanda dengan sekujur tubuh penuh luka. Praktis kisah cinta Saijah dan Adinda mengguncang para intelektual dan politisi Belanda. Van Deventer menggebrak Pemerintah Belanda di Dewan Rakyat. Van Deventer menuntut Kerajaan Belanda bayar hutang kepada Bangsa Hindia-Belanda yang telah diperas untuk kemakmuran Kerajaan Nederland.
Pidato Van Deventer berjudul Een Eereseschuld itu menggugah Kerajaan Belanda bahwa mereka betul betul bersikap tidak manusiawi dan menindas rakyat Hindia Belanda (Indianya Belanda, Nusantara). Ratu Wilhelmina kemudian memutuskan Kebijakan Politik Etis ,”Politik Balas Budi”.
Setelah merdeka berbagai rezim berganti, kehidupan masyarakat Lebak belum banyak perubahan menonjol. Perubahan dan gairah ekonomi itu baru nampak sekarang ini. Selamat Ulang Tahun ke -190 Kabupaten Lebak. Mari menyongsong Indonesia yang lebih cerah. Selamat untuk Mendunia.(Abdullah Taruna)

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.