Tiga Masalah Yang Harus Dibenahi Agar Universitas Berdaya Saing Global

 

 

 

 

 

 

Selain masalah kapasitas, passion dosen pada ilmu pengetahuan, dan tanggungjawabnya dalam membangun relasi pedagogik dengan para mahasiswi-mahasiswanya, menurut Pakar Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jimmy Philip Paat, masih ada sedikitnya tiga masalah lainnya yang perlu segera diatasi agar kualitas perguruan tinggi di Indonesia berdaya saing  internasional.  

 

Abdullah Taruna,

Ketiga  masalah  itu di antaranya: Pertama, Perguruan tinggi, khususnya universitas eks IKIP Negeri membuat strategi pendampingan kepada para mahasiswi-mahasiswa barunya untuk mengembangkan diri berdasarkan pilihan program studinya secara maksimal, Kedua; perguruan tinggi (LPTK) perlu meluruskan cara pandang yang salah tentang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang dianggap sebagai sekolah bagi anak-anak yang kemampuannya “kurang”; Ketiga: Pemerintah perlu mengurangi jumlah universitas yang sudah berlebihan.

Satu persatu Jimmy menjelaskan persoalan tersebut. Solusi pertama, kata Jimmy, para dosen  dan mahasiswa semester-semester akhir di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) perlu membuat strategi pendampingan kepada mahasiswi-mahasiswa baru.

“Kalau kita sependapat, bahwa yang masuk LPTK (universitas eks IKIP Negeri: Red.) sekalipun hasil tes masuknya tidak buruk, tapi besar kemungkinan jauh di bawah ITB, UI dan UGM, oleh karena itu para dosen dibantu mahasiswi dan mahasiswa tertentu untuk membantu mereka yang baru masuk minimum 4 semester, “ kata Jimmy menjelaskan langkah-langkah percepatan untuk menyamakan kualitas capaian belajar para  mahasiswa baru yang masuk universitas  eks IKIP Negeri dengan mereka yang masuk tiga perguruan tinggi papan atas

Tindakan kedua, umumnya mereka yang masuk SMK sebagai anak-anak yang berkemampuan ‘kurang’. Cara pandang itu, kata Jimmy, merupakan cara pandang yang salah. Saat ini kesalahan cara pandang itu malah diperparah dengan kontribusi pengangguran angkatan kerja paling tinggi dari satuan pendidikan SMK. Jimmy kemudian merujuk kepada Jerman yang bagus pengelolannya baik secara tekhnik pembelajaran, maupun pedagogik baik di sekolah maupun di keluarga.  Jerman, tambah Jimmy, menggunakan konsep “bildung” yang berarti “pendidikan” dan “pembentukan”.  Di Jerman, lanjut Jimmy, tidak semua anak masuk SMA tapi juga SMK.

“Rasa saya masyarakat Jerman yang menarik diperhatikan. Karena di sana tampak pendidikan vokasional memiliki posisi yang kelihatannya tidak dimarjinalkan. Kerja sama SMK dengan Industri sudah terbangun lama, “ ungkap Jimmy Philip  Paat yang juga menyebut Swiss  sebagai negara yang mengembangkan pendidikan SMK dalam cara pandang setara  SMA.

Kondisi sebaliknya, kata Jimmy, di bangsa kita SMK dianggap tempat anak-anak yang “kurang”.  “Kita perlu  memperlihatkan SMK yang memang benar-benar baik agar pandangan masyarakat berubah tentang pendidikan vokasional,” seru Jimmy.

Solusi ketiga, karena terkait dengan jumlah perguruan tinggi yang berlebihan, Jimmy mengatakan pentingnya orang-orang LPTK menginformasikan cerita tentang penting dan manfaatnya pendidikan SMK  di sekolah-sekolah, sehingga orang Indonesia terbuka pikirannya. “Jangan semua masuk ke universitas,” seru Jimmy.

Menurut Jimmy Pemerintah terlalu banyak mengizinkan universitas. Jumlahnya perguruan tinggi  mencapai 4700. “Padahal menurut pengalaman saya mengajar di perguruan tinggi, tidak lebih dari 10 % yang pantas untuk menjadi ilmuwan,” kata Jimmy.

Terkait kondisi itu, Jimmy Philip Paat setuju bila peningkatan kualitas perguruan tinggi dilakukan dengan melakukan beberapa langkah tersebut di atas, dan pada saat bersamaan melakukan “pengreduksian perguruan tinggi. pendidikan (Tinggi)”. Sekali lagi, Ketua Tim Ahli FDP Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta itu menggunakan istilah perampingan jumlah perguruan tinggi dengan istilah “Pengreduksian”. Langkah “Pengreduksian” perguruan tinggi nantinya mengharuskan Pemerintah mengangkat derajat satuan pendidikan sekolah kejuruan yang hari ini masih terpinggirkan di Indonesia.

Pandangan Jimmy Philip Paat sangat logis, sebab ketika paradigm Pemerintah dan masyarakat memandang sebelah mata sekolah menengah kejuruan, maka  dapat  berdampak pengangguran besar-besaran angkatan kerja SMK seperti  saat ini. Sekolah Kejuruan menyumbang pengangguran sebesar 8,63% dari total angkaan kerja. Jumlah itu lebih besar dibanding pengangguran SMA 6,78 %, Diploma 6,89 %, dan Sarjana Strata 1 sebanyak 6,24 % Merekapun memasuki perguruan tinggi dengan orientasi pengetahuan yang tidak maksimal.

Yana Priyatna, Dosen Universitas Bung Karno (UBK) yang juga Wakil Koordinator Forum Pedagogik IKA UNJ, mengatakan, secara angka ditemukan, para lulusan SMK yang masuk Fakultas Teknik di LPTK yang  berminat jadi guru hanya  40 persen. Pertanyaannya kemudian ada apa  dengan SMK?

Sebaliknya, untuk mereka yang memilih menjadi gurupun  tidak optimal. “Ada yang berpendapat dari semua yang  menjadi guru, pada umumnya lemah,” kata Jimmy Philip Paat.

Seperti diungkapkan oleh Jimmy Philip Paat, upaya meningkatkan kualitas perguruan tinggi harus selaras dengan pembenahan SMK. Yana pun menggaris-bawahi cara pandang Pemerintah dan masyarakat yang cenderung menomorduakan sekolah kejuruan. “Peran SMK mesti  dimaksimalkan, “kata Yana.

 

 

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.